Ramadan, Tuna Rungu Diajari Berkarya

MERAPI-Zaini Arrosyid Crafter dari Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar) mengajari anak-anak Pesantren Tuna Rungu Abata Temanggung
MERAPI-Zaini Arrosyid
Crafter dari Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar) mengajari anak-anak Pesantren Tuna Rungu Abata Temanggung

TEMANGGUNG (MERAPI) – Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar) melatih penyandang disabilitas rungu di Pesantren Tuna Rungu Abata berkarya membuat kerajinan dengan memanfaatkan limbah kain, guna mengisi kegiatan Ramadan 2019. Seorang pegiat Komunitas Tembikar Peni Dinar mengatakan pelatihan keterampilan sebagai modal untuk kehidupan penyandang tuna rungu kedepan. ” Kami coba gali potensi penyandang disabilitas, rupanya mereka punya potensi. keterampilan ini bisa untuk modal mada depan,” kata Selasa (21/5).

Dia mengatakan pelatihan diberikan secara gratis dan dilakukan selama ramadan. Barang yang dibuat diantaranya membuat bros. selain itu berbagai benda perhiasan dekoratif yang berasal dari limbah berupa kain perca.

Dia menyampaikan ada 16 anak tuna rungu yang ikut pelatihan. Awal dalam pembuatan diperlukan ketelatenan dan kesabaran, namun setelah mereka bisa mengerjakan satu bros bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Penggiat lainnya, Intan Herwindra mengatakan pengelolaan limbah menjadi kerajinan tidak memerlukan biaya banyak. Sebab bahan bakunya dari kain perca atau limbah dari penjahit yang sudah tidak digunakan. Secara tidak langsung hal tersebut untuk mengurangi sampah dengan memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berdaya guna dan berdaya hasil.

“Kendati memiliki kekurangan tapi anak-anak tuna rungu ini sangat besar potensinya. Semoga kerampilan yang dipunya bisa menunjung kehidupan mereka, syukur bisa mandiri,”katanya.

Seorang penyandang tuna rungu Pesantren Abata Aqila (9) mengaku senang diajari membuat bros oleh kakak-kakak dari Tembikar. Dia yang berasal dari Bogor Jawa Barat ini merasa tidak menemui kesulitan saat membuat bros, hanya saja perlu kejelian.

“Senang diajari membuat bros, ini langsung saya pakai brosnya cantik,”kata Aqila sedikit terbata-bata, sembari menebar senyum.

Kepala Pesantren Abata Temanggung Nur Sauminah mengatakan memang 24 anak di Abata dari rentang usia 6 sampai 14 tahun sangat membutuhkan keterampilan. Hal itu untuk mendukung pendidikan di Abata yang berbasis kurikulum pesantren yang harus hafal Alquran juz 30, bisa membaca tulis Alquran, doa sehari-hari, termasuk melatih untuk berpuasa.

“Alhamdulillah kami sangat sangat berterimakasih ada yang mengajari keterampilan. Saya lihat tidak ada satupun yang nangis, kecewa atau putus asa,” kata dia. (Osy)

Read previous post:
PEMERIKSAAN KENDARAAN JELANG MUDIK: Dishub Bantul Pastikan Angkutan Umum Laik Jalan

BANTUL (MERAPI) - Dua pekan sebelum Lebaran 2019, Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul semakin gencar lakukan ramp check (pemeriksaan kelaikan kendaraan).

Close