Berburu Aglaonema Warna Ceria

Aneka jenis aglaonema milik Sukristinah. (MERAPI-SULISTYANTO)

MASIH ingat saat booming tanaman hias? Pameran tanaman bisa rutin digelar di berbagai tempat. Terutama tanaman dengan julukan Si Raja Daun (anthurium) dan Si Ratu Daun (aglaonema) dibanderol dengan harga mahal. Meski mahal,tanaman tersebut tetap saja banyak peminatnya. Khusus aglaonema dikenal memiliki tampilan daun indah-menawan, bahkan sebagian kombinasi warna daun mirip kain batik. Semua indah dipandang, sehingga bukan hal aneh sampai sekarang tetap eksis diburu para pecinta tanaman hias.

ingat saat booming tanaman hias? Pameran tanaman bisa rutin digelar di berbagai tempat. Terutama tanaman dengan julukan Si Raja Daun (anthurium) dan Si Ratu Daun (aglaonema) dibanderol dengan harga mahal. Meski mahal,tanaman tersebut tetap saja banyak peminatnya. Khusus aglaonema dikenal memiliki tampilan daun indah-menawan, bahkan sebagian kombinasi warna daun mirip kain batik. Semua indah dipandang, sehingga bukan hal aneh sampai sekarang tetap eksis diburu para pecinta tanaman hias.

Sejumlah penangkar aglaonema pun mampu mengawinsilangkan antar jenis atau varietas sehingga muncul jenis-jenis baru. Terutama aglaonema dengan warna-warna daun ngejreng ataupun cerah banyak disenangi kaum hawa, mulai dari remaja sampai emak-emak.

Hal ini seperti dituturkan penggemar dan kolektor aglaonema asal Tridadi Sleman, Sukristinah. Sebagian aglaonema yang ditempatkan di pekarangan rumahnya sering didatangi penggemar tanaman. Baik datang secara individu, keluarga maupun berkelompok. Tak jarang di antara mereka ingin bisa memiliki atau membeli, terlebih kaum hawa merasa suka jika mempunyai aglaonema dengan warna ngejreng.

“Kebetulan sebagian jenis aglaonema dengan daun-daun warna ngejreng sudah bisa saya perbanyak sendiri. Ketika ada yang berminat membeli dan mau merawat dengan baik, biasanya saya lepas dengan harga bisa dimusyawarahkan,” kata Tinah kepada Merapi, belum lama ini.

Adapun cara memperbanyak tanaman aglaonema, sebutnya, ia biasa belajar lewat internet, bertanya yang sudah lebih pengalaman. Termasuk datang langsung ke kebun milik Ketua Komunitas Aglaonema DIY Sri Rejeki, R Agus Choliq. Paling banyak diterapkan, yakni perbanyakan vegetatif antara lain dengan pemisahan anakan, setek batang, setek pucuk dan cangkok. Ada lagi yang sudah mampu menerapkan kultur jaringan, namun hanya pihak-pihak tertentu saja, sebab tahapannya cukup rumit.

“Kalau perbanyakan model kultur jaringan maupun menggunakan biji, sampai bisa dikawinsilangkan antar jenis aglaonema, terus terang saya belum bisa,” bebernya.

Ditambahkan ibu dari dua anak ini, beberapa perawatan penting aglaonema terutama penyiraman, pemupukan dan pemilihan media tanam yang baik. Media tanam yang dicampurkan dalam pot dapat menerapkan kombinasi sekam bakar, sekam mentah, sedikit pupuk kandang, akar pakis dan sedikit tanah subur serta pasir Malang. Campuran media tanam seperti ini akan bersifat porous atau tak menahan air terlalu lama yang bisa memicu akar maupun batang tanaman mudah busuk. Soal pemupukan dapat menggunakan pupuk model cair ataupun slow release.

“Penempatan tanaman aglaonema sebaiknya di lokasi yang tak mendapat sinar matahari langsung terutama pada siang hari. Amannya dapat di bawah pepohonan atau bisa juga dipasang paranet untuk mengurangi intesitas sinar matahari,” papar Tinah. (Yan)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
PULUHAN ANGGOTA KPPS MENINGAL-Kerja Siang-Malam Tanpa Istirahat

BANTUL (MERAPI)- Proses coblosan pemilu 2019 merupakan yang terumit sepanjang sejarah Bangsa indonesia. Penyebabnya, pemilu kali ini digelar serentak untuk

Close