Sekar Jagad Siap Sosialisasikan Batik Warna Alam

Sebagian pengurus dan anggota Sekar Jagad. (MERAPI-SULISTYANTO)
Sebagian pengurus dan anggota Sekar Jagad. (MERAPI-SULISTYANTO)

DALAM rangka memperingati Hari Batik Nasional dan mendukung rangkaian <I>Jogja International Batik Biennale<P> (JIBB) 2018, Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar jagad mempunyai beberapa even penting. Satu di antaranya talkshow dan peluncuran buku <I>Batik Zat Warna Alam<P> dengan menghadirkan narasumber sebagian dari penulis buku tersebut, yakni Murdijati Gardjito dan Hani Winotosastro.

Dengan diluncurkannya buku ini diharapkan termasuk bagian upaya PPBI Sekar Jagad dalam mensosialisasikan atau memasyarakatkan batik menggunakan zat warna alam.

“Buku seperti ini antara lain dapat menjadi sumber referensi bagi para pengrajin Batik yang ada di wilayah DIY khususnya dan Indonesia pada umumnya dalam mendukung batik yang ramah lingkungan dan dapat mendukung satu kriteria DIY sebagai Kota Batik Dunia,” kata Ketua III Sekar Jagad, Afif Syakur ditemui di sela-sela acara.

Dalam kesempatan ini juga diluncurkan Sanggar Membatik Sekar Jagad yang berlokasi di Joglo Sekar Jagad, Sinduadi Mlati Sleman. Pihaknya bahkan sudah biasa mengadakan beberapa pelatihan antara lain pelatihan untuk ibu-ibu PKK dan para pengrajin batik pemula dan beberapa kelompok siswa sekolah. Selain itu Sekar Jagad juga melakukan <I>soft launching<P> berdirinya Pusat Informasi Batik.

Sementara itu Murdijati Gardjito yang juga <I>sesepuh<P> di Sekar Jagad, baik dia pribadi maupun Sekar Jagad siap memasyarakatkan atau mensosialisasikan batik ramah lingkungan dengan warna alam. Diterbitkannya buku Batik Zat Warna Alam pun bagian dari usaha sosialisasi. Saat ini baru dicetak 100 eksemplar dengan harga Rp 450.000 perbuku.

“Dengan zat warna alam, selain ramah lingkungan juga aman bagi kesehatan terutama kulit. Berbeda yang dengan pewarna sintetis, antara lain ada yang bisa menyebabkan alergi,” paparnya.

Hal senada disampaikan Hani Winotosastro. Selain aman dan sehat, dengan pewarna alam akan mendapatkan warna-warna batik bernuansa kalem. Meski tak sedikit generasi muda kurang senang, sebab banyak yang menyukai warna ngejreng, namun dia optimis suatu saat akan banyak generasi muda yang bisa menerima batik warna alam. Untuk bahan-bahan pewarnanya pun dapat memilih dari bagian tanaman yang bisa mudah diperoleh di sekitar kita.

“Tidak harus tanaman yang sulit didapat, tapi dari daun mangga, sawo dan jambu biji juga bisa. Bunga srigading dan alamanda, kayu secang maupun kayu manis juga bisa,” urainya. (Yan)

 

Read previous post:
Bagi Pematung Yusman, Perpustakaan Penting untuk Investasi Karya

PERPUSTAKAAN bukan melulu menjadi kebutuhan para ilmuwan, peneliti, mahasiwa, pelajar dan sastrawan saja. Namun seorang seniman patung pun membutuhkan sebuah

Close