Kala Generasi Milenial Belajar Membatik

Para mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia dan Asean saat belajar membatik. (MERAPI-TRI DARMIYATI)
Para mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia dan Asean saat belajar membatik. (MERAPI-TRI DARMIYATI)

PULUHAN mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia dan negara Asean terlihat antusias belajar membatik. Mulai dari menggambar pola, hingga melukisnya dengan lilin malam. Dibutuhkan kesabaran dalam menggoreskan lilin agar tak keluar dari pola gambar. Sesekali lilin panas mengenai tangan, tapi tak menyurutkan semangat membatik. Menariknya motif atau gambar batik yang dibuat sebagian peserta bukan motif batik umumnya. Tapi berupa gambar karakter binatang.

Itulah suasana kegiatan belajar membatik yang diikuti peserta World Heritage Camp Indonesia (WHCI) 2018 di Batik Winotosastro, Yogya, Jumat (7/9). Kegiatan yang diadakan oleh Direktorat Warisan Budaya Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selama beberapa hari itu tahun ini mengeksplorasi kekayaan budaya di DIY.

“Ini pertama kalinya saya membatik. Lumayan susah, tapi menyenangkan. Saya pilih menggambar koala biar mudah saat nggores malam nggak melebar ke mana-mana,” kata Siti Ayu Hastari salah satu peserta WHCI kepada <I>Merapi <P> di sela belajar membatik, kemarin.

Menurut mahasiswi Institut Teknologi Medan itu dengan belajar membatik dia menjadi tahu prose pembuatan kain batik tidak mudah. Belum semua orang mengetahui pembuatan batik itu. Oleh sebab itu batik sebagai identitas budaya Indoensia harus dijaga dan dilestarikan. “Setelah kegiatan tentunya kita generasi muda harus bangga menggunakan batik. Kain batik tak identik dengan orangtua,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Izzywndi peserta dari Malaysia. Dia merasa bangga bisa belajar membatik dan mengekspolorasi budaya di Yogyakarta karena di negaranya tidak ada. Di Malaysia diakuinya juga ada batik tapi ada perbedan dari segi motif dan cara memakainya. Motif batik di Malaysia, lanjutnya, kebanayakan lebih ke flora fauan dan batik di Yogyakarta ke motif kultural.

“Di Indonesia penggunaan batik motif tertentu untuk untuk kegiatan khusus seperti kegiatan pernikahan dan adat. Di Malaysia batik untuk sehari-hari. Kegiatan ini bis menambah khazanah budaya antar bangsa dan Malaysia masih satu rumpun dengan Indonesia,” urai Izzywandi.

Sementara itu Kepala Seksi Pengelolaan Bidang Warisan Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Anton Wibisono mengatakan WHCI digelar rutin sejak tahun 2016 dan di tahun 2018 diadakan di DIY karena memiliki kekayaan warisan budaya yang kompleks dengan berbagai lapis kebudayaan ada DIY,Para peserta berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang diseleksi berdasark minat dan kepedulian terhadap pelesetarian budaya.

“Melalui belajar membatik ini memberikan pemahaman dan pengalaman membuat batik kepada generasi muda. Bagaimana membedkan batik tulis, cap dan batik printing,” imbuh Anton.

Mereka juga diajak ke Pasar Beringharjo untuk berinteraksi dengan pedagang soal batik. Selain itu para peserta juga mengekplorasi warisan budaya di Goa Braholo Gunungkidul, Candi Kedulan dan Kimpulan di Sleman, Kotagede dan Kraton Yogyakarta. Pihaknya berharap peserta memahami warisan budaya benda dan takbenda, khususnya di DIY dan kaitannya dengan Konvensi UNESCO.

Menurutnya generasi muda dipilih menjadi peserta karena memiliki semangat yang besar, kemampuan berpikir kritis, melek teknologi dan menjadi poros pendorong dalam usaha pelindungan dan promosi warisan budaya dunia di Indonesia.

”Harapan kami setelah kegiatan ini mereka menjadi agen yang bisa menangani permasalahan cagar budaya tak benda di daerah mereka tinggal. Termasuk memberikan rekomendasi tentang pengusulan Yogyakarta sebagai kota warisan budaya dunia tak benda ke UNESCO,” terangnya,

Kepala Seksi Pengusulan Warisan Budaya Takbenda Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud menambahkan dari 45 peserta 8 orang di antaranya dari negara Asean ssperti Malaysia, Vietnam, Laos, Philipina, Thailand. Peserta diberi pemahaman soal batik sebagai warisan leluhur Nusantara. Diharapkan peserta dapat terlibat dalam perlindungan batik dan upaya pelestarian terhadap ancaman batik. (Tri)

 

Read previous post:
Finhacks 2018 #DataChallenge Tantang Warga Yogya

JETIS (MERAPI) - Setelah digelar di Jakarta, Finhacks dengan konsep Hackathon digelar di Yogyakarta. Even yang mengusung tema Data Challenge

Close