Penulis Harus Paham Etika Media Sosial

Workshop penulisan yang digelar Komunitas AksaraKu di Suaka Margasatwa Sermo. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Workshop penulisan yang digelar Komunitas AksaraKu di Suaka Margasatwa Sermo. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

KOKAP (MERAPI) – Penulis pemula tidak perlu takut untuk berkarya, apalagi khawatir karyanya tidak dibaca. Sebab saat ini, perkembangan teknologi sangat pesat sehingga memudahkan mereka untuk mempublikasikan tulisan. Hanya saja, penulis harus paham etika bermedia sosial jika ingin memposting tulisannya melalui internet.

Hal tersebut ditegaskan penulis Novel ‘100 Tahun Setelah Aku Mati’, Wahyu Naufal, saat menjadi pembicara Workshop Kepenulisan yang diselenggarakan Komunitas AksaraKu di Suaka Margasatwa Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Minggu (10/2). Ia menegaskan, penulis pemula tidak perlu khawatir akan hasil karyanya.

“Selama ini, kebanyakan penulis pemula terlalu resah dan khawatir karyanya tidak dibaca. Padahal, tidak semua karya tulis harus berbentuk fisik dengan dicetak menjadi buku,” kata Wahyu.

Ia menilai, generasi muda saat ini cukup dimudahkan keberadaan beragam media teknologi dan informasi yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana dalam menuangkan kreativitasnya. Dicontohkan, KasKus, Wattpad, blog dan lainnya bisa menjadi tempat mereka dalam memposting tulisan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mulai menulis terlebih dahulu.

“Kalau sudah, bagikan lewat media apa saja. Tapi yang perlu menjadi catatan penting adalah penulis harus paham bagaimana etika bermedia sosial,” tegas Wahyu.

Workshop kepenulisan yang digelar Komunitas AksaraKu merupakan upaya meningkatkan minat menulis bagi masyarakat terutama generasi muda. Sebab komunitas ini menilai, minat menulis sudah mulai berkurang seperti minat masyarakat untuk membaca.

“Sebagian besar generasi muda beranggapan bahwa menulis harus berpatok pada suatu profesi seperti penulis dan sebagainya. Untuk menumbuhkan kreativitas anak muda Kulonprogo dalam menulis, kami menyediakan wadah berupa laman dalam jaringan (daring) bernama Aksaraku.com,” kata pegiat AksaraKu, Bayuarga Damar Sungkowo.

Penyelenggaraan workshop, menurut Bayuarga, merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan minat menulis. Selain Wahyu Naufal, narasumber lain yang dihadirkan di antaranya Dyar Ayu Budi Kusuma, penulis konten kreatif daring dan Lajeng Padmaratri, pimpinan redaksi pers mahasiswa (persma) salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang juga merupakan editor Aksaraku.com.

“Antusias warga dan anak muda untuk membaca dan menulis yang masih minim, menjadi tantangan kami. Untuk bisa menulis, mereka harus bisa membaca serta harus sadar dulu alasan menulisnya apa,” ujarnya. (Unt)

Read previous post:
ilustrasi
DIDUGA CARI SASARAN PENGANIAYAAN-Gerombolan Pelajar Bersenjata Diamankan

JETIS (MERAPI)- Gerombolan pelajar SMP diamankan Polisi Polresta Yogya Polda DIY, Minggu (11/2) dini hari. Polisi menemukan pisau dan gir.

Close