Raih Untung dari Usaha Sangkar Burung

Raih Untung dari Usaha Sangkar Burung
Sangkar dari perajin siap dipasarkan oleh pedagang sangkar.

SEIRING dengan banyaknya penggemar burung berkicau maupun anggungan, kebutuhan sangkar burung kian tak terbendung. Peluang meraih untung dan diharapkan bisa menabung, bisa dialami mulai dari perajin sampai pedagang sangkar burung.

Salah satu perajin sangkar burung di kawasan Jurug Sedayu Bantul, Sugino mengungkapkan, sudah puluhan tahun menerjuni usaha pembuatan sangkar. Ia lebih fokus pada sangkar burung anggungan terutama perkutut. Pada awal usahanya, harga sangkar rata-rata tak lebih dari Rp 5.000 persangkar. Sedangkan akhir-akhir ini sudah banyak yang dijual di atas Rp 50.000 persangkar.

“Khususnya sangkar perkutut, saya lebih banyak membuat jenis blabakan, drengking dan mataraman. Masing-masing jenis mempunyai keunggulan tersendiri. Selain ada yang sifatnya pesanan, ada juga dikumpulkan dahulu, lalu disuruh ambil pedagang sangkar,” jelas Sugino kepada Merapi, baru-baru ini.

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan sangkar, misalnya kayu maupun bambu berkualitas sebagai rangka. Ada lagi bambu digunakan sebagai jeruji serta anyaman bambu untuk bagian alas sangkar. Bagian alas ada juga yang menggunakan triplek. Tak ketinggalan, rotan, paku, lem kayu serta kawat yang diperoleh dari pembakaran ban luar truk. Alat-alat yang digunakan, antara lain gergaji, pisau, alat serut kayu, palu kecil, meteran/penggaris, tang, pensil dan amplas.

“Sebelum menerjuni sendiri, saya pernah banyak belajar membuat sangkar burung perkutut di salah satu perajin yang tinggal di tetangga dusun saya. Tapi beliau sudah meninggal dunia,” kenang Sugino.

Ditambahkan, jenis sangkar blabakan saat ini dibanderol kisaran Rp 60.000 persangkar dan Rp 120.000 jika sepasang (dua sangkar). Sedangkan jenis drengking Rp 150.000 sepasang atau serakit sangkar. Lain halnya dengan jenis mataraman, biasa ada hiasan tambahan dari rotan di bagian tengah, yakni Rp 180.000 serakit sangkar. Semua jenis sangkar ini mempunyai penggemar.

“Oleh pihak pedagang saya banyak disemangati untuk bisa membuat sebanyak-banyaknya sangkar. Bahkan siap diberi modal, tapi saya merasa kurang sreg kalau sampai hutang untuk modal,” tandasnya.

Sedangkan Tuparno, salah satu pedagang sangkar burung di kawasan Prambanan Sleman mengatakan, baik sangkar ocehan atau burung berkicau maupun anggungan banyak dicari hobiis. Bahkan warga yang sekadar ingin mempunyai satu ekor sampai beberapa ekor burung banyak membutuhkan sangkar. Tak jarang, sangkar sederhana terbuat dari bambu, kadang dipadu dengan rotan dan kayu banyak penggemarnya.

”Salah satu alasannya, bisa kuat dan harga terjangkau. Pengrajin sangkar burung masih tradisional serta banyak dikerjakan secara manual, antara lain di Gunungkidul, Sedayu serta Klaten,” jelas Tuparno.

Lelaki asal Gunungkidul ini pun biasa berburu mencari dagangan sangkar ke perajin-perajin langsung. Sebagian dijual sendiri, sebagian lagi disetorkan ke pedagang lain. Bahkan sampai keluar Yogyakarta, misalnya sampai Salatiga, Boyolali, Klaten, Wonosobo dan Solo. Salah satu anaknya, sudah dilatih juga untuk bisa membantu, sehingga suatu saat dapat menjalankan atau meneruskan usahanya. (Yan)

Read previous post:
Mbah Atmo menunjukkan luka di tubuhnya akibat serangan tawon
Heboh di Kulonprogo, Kakek 90 Tahun Pingsan Disengat Tawon

LENDAH (MERAPI)- Niat Atmo Diryo (90) warga Dusun Jimatan, Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo untuk memanen kelapa dengan bantuan seorang

Close