Suasana Alami Dukung Penangkaran Murai

Kolam di dekat kandang penangkaran murai ikut mendukung suasana alami
Kolam di dekat kandang penangkaran murai ikut mendukung suasana alami

KICAU mania penggemar murai batu maupun kacer kian bertambah. Bahkan setiap digelar lomba burung berkicau, biasa ada kelas kedua jenis ocehan ini. Wajar saja jika sebagian kicau mania berusaha menangkarkan murai maupun kacer. Salah satu syarat agar berhasil dalam penangkaran, yakni suasana kandang perlu dibuat sealami mungkin.

Seperti diungkap penangkar murai dan kacer di kawasan Trihanggo Sleman, Gatot, dengan suasana alami akan mendukung sukses atau berhasilnya usaha penangkaran ocehan. Kiat menciptakan suasana alami, misalnya di dalam kandang penangkaran perlu diberi tanaman, misalnya ditempatkan dalam pot gantung maupun pot yang ditempatkan di tanah. Beberapa jenis tanaman mampu tumbuh baik meski kurang mendapat sinar matahari, misalnya jenis difen.

“Adanya bak kolam di dekat kandang penangkaran juga mampu menciptakan suasana alami. Apalagi dibuat gemericik air yang bisa selalu terdengar oleh ocehan. Saat musim panas, adanya kolam juga bisa mengurangi rasa gerah bagi ocehan,” ungkap Gatot, baru-baru ini.

Tak kalah penting, ia biasa menggunakan bahan-bahan alami sebagai pendukung penangkaran di dalam kandang.  Antara lain tempat bertengger atau tangkringan dibuat dari potongan dahan pohon, berlekuk dan masih ada kulitnya. Sarang untuk bertelur, khususnya untuk kacer ia memilih batang pohon kelapa yang dilubang. Dasar kandang cukup lantai tanah yang dilambari pasir asal sungai.

Bapak dua anak ini pun banyak memberikan pakan alami, misalnya ulat Hongkong, cacing, jangkrik dan ulat Jerman.  Tempat pakan dibuat dari wadah-wadah khusus yang dibuat dari bahan alami seperti kayu maupun bambu.  Penempatannya di kandang diusahakan mudah  untuk diambil sewaktu-waktu, misalnya untuk dibersihkan maupun saat penambahan pakan. Minuman rutinnya cukup diberi air bersih atau bisa dibuatkan wadah khusus yang disambungkan aliran kran.

“Ketika sepasang murai maupun kacer sudah berjodoh akan bisa rutin bertelur. Setelah telur menetas, kira-kira tujuh hari dari penetasan, biasa saya ambil lalu saya loloh sendiri,” terang Gatot.

Ditambahkan, kendala dalam penangkaran ocehan selain penyakit, yakni soal penjodohan.  Ketika ingin menjodohkan murai batu, antara jantan dan betina tak bisa langsung dijadikan satu dalam kandang penangkaran. Pasalnya,  ketika murai jantan dan betina belum kenal atau belum jodoh bisa saling serang.  Tak jarang  juga murai jantan terus mengejar serta menghajar  murai betina, sehingga dapat memicu stress, menjadi tak mau makan sampai akhirnya bisa sampai mati.

Adapun salah satu cara dalam menjodohkan murai maupun kacer,  yakni dengan menggunakan sangkar memanjang dang bersekat. Panjang sangkar, misalnya 180 cm, lebar 90 cm dan tinggi 90 cm. Rangka sangkar menggunakan kayu dan dinding-dindingnya dari kawat strimin. Bagian tengah sangkar diberi sekat terbuat juga dari kawat strimin serta dapat ditarik ke atas.  Selanjutnya murai jantan dan betina ditempatkan dalam sangkar tersebut, namun masih dipisahkan dengan sekat di tengah sangkar.

Dibiarkan sampai beberapa waktu, ketika antara yang jantan dan betina terlihat akrab,  apalagi kalau malam tidurnya berdekatan meski dibatasi sekat, tanda sudah  berjodoh.

“Kendala berupa penyakit, misalnya terserang tetelo. Bahkan adanya kutu atau tumo bisa memicu ocehan stress, mengurus badannya dan bisa mati,” imbuhnya. (Yan)

Read previous post:
Budidaya guppy dan cupang dapat memanfaatkan beberapa wadah termasuk ember
Budidaya Guppy Tak Harus di Kolam

IKAN hias jenis guppy maupun cupang masih banyak penggemar. Kedua jenis ikan ini pun rutin dikonteskan, bahkan sering dibarengkan dalam suatu

Close