Omah Rendo Sebarkan Hobi Rajut

Wiwik Ambarwati (paling kiri) saat merajut bersama anggota Omah Rendo di stand Grebeg UMKM
Wiwik Ambarwati (paling kiri) saat merajut bersama anggota Omah Rendo di stand Grebeg UMKM

Hobi tak hanya melulu tentang kesenangan dan kepuasan batin seseorang. Menekuni hobi dapat pula menginpirasi orang lain serta menghasilkan karya yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Adalah Wiwik Ambarwati (60) yang menularkan hobi merajutnya kepada masyarakat luas melalui Omah Rendo. Melalui Omah Rendo, Wiwik berbagi ilmu merajut kepada siapa saja yang mau belajar. Lebih dari itu, Wiwik tak segan untuk mendatangi kelompok-kelompok yang ingin bisa merajut.

Wiwik yang juga mantan dosen arsitektur ini telah menekuni hobi merajut sejak kecil. Ia mengaku, mengenal ketrampilan rajut ketika menerima materi di sekolah dasar dan diajari ibunya. Pengetahuannya tentang rajut semakin luas seusai menikah. Wiwik yang saat itu berprofesi sebagai dosen sering diberi buku tentang pola-pola rajutan oleh mertuanya. Dari situ Wiwik memutuskan untuk kembali memasyarakatkan merajut dengan mendirikan Omah Rendo.

“Saat awal menikah dulu, mertua saya malah membelikan saya banyak buku tentang keterampilan merajut. Dari situ, saya jadi semakin semangat dan sering berbagi keterampilan dengan tetangga rumah. Saat itu saya belum kepikiran tentang profit. Yang penting orang-orang bisa dan suka dulu sama rajut. Karena saya cinta sama rajut dan saya ingin rajut kembali memasyarakat. Jadi saya memberikan pelatihan secara gratis,” bebernya saat ditemui di JEC, Senin (4/12).

Pasca erupsi Merapi 2010, Wiwik rajin memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ada di pengungsian dekat rumahnya. Setelah para pengungsi kembali ke daerahnya, Wiwik pun masih rajin memberikan pelatihan. Hingga kini, Wiwik dan beberapa anggota komunitas Omah Rendo rutin mengadakan kelas merajut setiap hari Selasa dan Sabtu. Omah Rendo yang terletak di kawasan Perum Candi Gebang Permai P-7, Tempel, Sleman menerima siapa pun yang ingin belajar merajut secara cuma-cuma.

“Jadi saya dan teman-teman mulai intens mengajarkan merajut itu pasca erupsi merapi 2010 lalu. Sekarang anggotanya sudah tersebar hampir diseluruh DIY. Mereka telah memiliki keahlian masing-masing, misal ahli bikin sepatu, tas, aksesoris dan lainnya. Jadi, belajar merajut tidak harus datang ke Omah Rendo, saya juga sering mendatangi mereka yang ingin belajar merajut,” ujar Wiwik.

Meski mengajarkan rajut secara gratis, kualitas rajutan karya Wiwik tidak asal asalan. Menurutnya, karya rajutnya tidak bermasalah jika dicuci menggunakan mesin. Selain kualitas, dirinya bersama komunitas mampu menghasilkan aneka macam karya dari merajut, seperti baju, rompi, sepatu, selimut, payung, aksesoris dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk penjualan, Wiwik biasa menjualkan karya dari komunitas secara online dan melalui pameran.

“Harapannya semua orang suka merajut, jadi kegiatan merajut kembali memasyarakat. Selain itu, merajut bisa masuk kurikulum sekolah, karena saya dapat pengetahuan merajut dari sekolah dasar saat itu,” pungkas Wiwik. (C-2)

Read previous post:
Teatrikal peringatan Hari HIV-AIDS sedunia di Simpang Lima Karangnongko
TEATRIKAL EDUKASI BAHAYA HIV/AIDS, Jauhi Virus Bukan ODHA

DUA remaja laki-laki dan perempuan bersimpuh di tengah jalan sembari mengulurkan tangan meminta pertolongan. Ironisnya, tidak ada satupun orang di

Close