PAGUYUBAN PECINTA SATWA HIAS MATARAM – Mayoritas Anggota Memiliki Ayam Populer

Sebagian anggota dan pengurus Paguyuban Pecinta Satwa Hias Mataram
Sebagian anggota dan pengurus Paguyuban Pecinta Satwa Hias Mataram

PENGGEMAR atau pecinta satwa hias mudah ditemukan di masyarakat. Sebagian di antaranya sudah bergabung di suatu paguyuban maupun komunitas, antara lain untuk lebih memperat persaudaraan serta sebagai ajang bertukar wawasan maupun pengalaman.

Salah satu paguyuban pecinta satwa hias dengan anggota berasal dari DIY dan Jawa Tengah, yakni Paguyuban Pecinta Satwa Hias Mataram. Berdiri sejak awal 2015 lalu dengan jumlah anggota aktif ada sekitar 35 orang. Anggota paguyuban ini banyak memelihara sampai menangkarkan satwa hias, misalnya aneka ayam hias, reptil, kelinci burung berkicau (ocehan) maupun anggungan.

Menurut Ketua Paguyuban Pecinta Satwa Hias Mataram, Budi Santosa, saat ini mayoritas anggota mempunyai dan menangkarkan jenis satwa ayam hias sudah populer di kalangan hobiis. Jenis ayam baik lokal maupun berasal dari luar negeri, misalnya ayam black Sumatra, pelung, kate, kalkun, brahma, bekisar, ayam hutan, ring neck pheasant, dong tau dan giant cochin. Bahkan ada yang menangkarkan ayam merak dan telah dilengkapi izin penangkaran dari pemerintah, sebab termasuk satwa dilindungi.

“Kalau satwa hias jenis burung antara lain ada lovebird, kacer, derkuku, puter dan burung-burung paruh bengkok seperti nuri dan bayan,” jelas Budi, baru-baru ini.

Ditemui di sela-sela pameran peringatan Hari Cinta Satwa dan Puspa Nasional di kawasan Agrowisata Bhumi Merapi Jalan Kaliurang Sleman, Budi mengungkapkan, paguyubannya rutin menggelar pertemuan sebulan sekali. Tempatnya bergilir dari rumah satu anggota ke anggota lain, bahkan bisa di lokasi kuliner. Pada saat pertemuan antara lain membahas beberapa program kegiatan, tukar menukar wawasan seputar satwa hias dan bisa mengundang pakar di bidang ini. Tak ketinggalan ada arisan untuk anggota yang sudah mempunyai kartu anggota.

“Beberapa agenda kami, antara lain berusaha bisa mengadakan semacam sosialisasi satwa hias misalnya di kawasan Titik Nol Yogya. Bisa juga suatu saat menggelar kontes satwa, antara lain jenis-jenis ayam hias dan bakti sosial ke beberapa tempat yang membutuhkan,” ungkap Budi.

Mewakili anggota paguyuban ini, Guntur Ginanjar dan Dwi Jogja mengatakan merasa senang dapat bergabung di Mataram. Keduanya lebih fokus memelihara dan menangkarkan ayam-ayam hias. Aneka jenis ayam dapat dijadikan penyemarak lingkungan rumah, lokasi kuliner bahkan sampai perkantoran. Beberapa komunitas ataupun paguyuban ayam hias di Indonesia bahkan sudah rutin menggelar kontes. Daya tariknya bisa suara, tingkah laku maupun tampilan bulu-bulu ayam.

“Selain model offline, untuk sosialisasi sampai memasarkan aneka ayam hias maupun satwa hias lainnya bisa juga dengan online. Dengan model online jangkuannya bisa lebih luas, sehingga aneka ayam hias akan semakin bisa memasyarakat,” tandas Guntur yang diamini Dwi.  (Yan)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Ilustrasi Pantai Ngandong
Wisawatan ke Pantai Gunungkidul Lesu

WONOSARI (MERAPI) - Pelaku wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul mengeluhkan lesunya wisatawan yang berkunjung ke pantai akibat adanya bencana banjir

Close