Terjuni Ocehan, Gus Ali Didik Santri Soal Ekonomi

Gus Ali mampu memperoleh banyak manfaat ketika bisa terjun di bidang ocehan
Gus Ali mampu memperoleh banyak manfaat ketika bisa terjun di bidang ocehan

BERBAGAI kalangan cukup antusias terjun di jagat burung berkicau atau ocehan. Tak jarang, selain memelihara maupun menangkarkan, sebagian dari mereka juga aktif mengikuti lomba ocehan di berbagai tempat.

Satu di antaranya H Agus Aly Qayshar, pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Timur, Gunung Pring Muntilan. Saat ada lomba ocehan, lelaki yang biasa dipanggil Gus Ali itu bersama sejumlah santrinya biasa membawa lovebird, murai batu dan cucak hijau. Beberapa gacoan lovebird-nya bahkan langganan juara, antara lain yang diberi nama Shakira, Larasati, Puyer dan Soo’uun.

Menurut Gus Ali, ia dan beberapa santrinya aktif terjun di bidang ocehan atau sebagai kicau mania tak sekadar bisa memperoleh hiburan. Namun ada banyak manfaat penting lain, misalnya sebagai ajang silaturahmi, memperluas persaudaraan serta melatih santri di bidang ekonomi. Pasalnya, ketika mampu merawat ocehan dengan baik, bisa menangkarkan ataupun jual-beli di bidang ini akan memberikan rezeki tersendiri.

“Intinya belajar di pondok pesantren bukan hanya bisa belajar soal agama saja, namun juga bidang-bidang kehidupan lain yang bisa memberikan bekal bagi santri sesuai minat dan bakatnya,” tutur Gus Ali saat ditemui Merapi di suatu even lomba ocehan, baru-baru ini.

Ditambahkan, saat ada lomba ocehan seperti di kawasan DIY, Semarang, Jakarta, Jawa Timur, Purwokerto, Pekalongan dan Solo ia dengan beberapa santri, biasanya tak lebih enam orang, berusaha bisa datang dengan memakai mobil sendiri. Ketika ada lomba di Magelang maupun Muntilan, sering cukup diwakilkan ke sejumlah santri. Hal penting yang disarankan kepada santrinya, baik menang maupun kalah dalam suatu lomba harus bisa disyukuri. Selain itu saat jam salat, diusahakan juga bisa salat di awal waktu.

Sementara itu kicau mania asal Gamping Sleman, Lukas Sutrisno pun mengaku ada banyak manfaat yang diperoleh dengan menerjuni bidang ocehan. Sampai saat ini, ia lebih fokus pada menangkarkan dan melombakan ocehan jenis lovebird. Ocehan jenis ini selain dilombakan kategori suaranya juga kecantikan (penampilan). Ketika gacoannya ada yang terpilih juara antara lain bisa mendongkrak harga serta menjadikan usaha penangkarannya kian dikenal kicau mania.

“Lovebird yang dilombakan suaranya bisa dari bermacam jenis, tapi didominasi warna kepala emas atau palamas,” ungkapnya.

Lain halnya lovebird yang biasa untuk lomba kecantikan atau beauty contest, idealnya yang ada cacat sedikit pun di tubuh lovebird. Penilaian antara lain meliputi bagian sayap, kepala, punggung, warna bulu, tingkah laku, kondisi serta bentuk keseluruhan tubuh atau harmonisasi. Baik lovebird import maupun lokal berpeluang meraih juara, jika kualitasnya memang bagus.

Ketika rutin ikut lomba, sebut Lukas, akan bisa menjadi tolak ukur juga dalam perawatan maupun hasil penangkaran dari setiap kicau mania. Tak jarang juga agar lebih bertambah wawasan di bidang ini, antara lain bisa bergabung dalam suatu komunitas. Khusus pecinta lovebird antara lain bisa bergabung di Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) mulai dari tingkat provinsi sampai pusat (nasional). (Yan)

Read previous post:
Ilustrasi - Pelaku UMKM Dilatih Pemasaran Online
Pelaku UMKM Dilatih Pemasaran Online

SUKOHARJO (MERAPI) - Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Sukoharjo dilatih dalam pengembangan pemasaran produk usaha melalui program

Close