Pasien Tanpa Gejala Covid Melonjak, Kulonprogo Aktifkan Selter Kalurahan

WATES (HARIAN MERAPI) – Menyikapi peningkatan kasus positif Covid-19 di Kulonprogo, Pemkab setempat akan mengaktifkan selter atau penampungan di setiap kalurahan. Selter ini berfungsi untuk menampung pasien positif Covid-19 setelah RSUD Wates, RSUD NAS dan Rumah Singgah Teratai penuh.

Bupati Kulonprogo, Sutedjo menyampaikan, kasus positif Covid-19 di wilayahnya terus meningkat sejak tiga bulan terakhir, bahkan melonjak pada akhir Agustus hingga pertengahan September. Kondisi ini menyebabkan rumah sakit rujukan dan rumah singgah tidak mampu menampung pasien.

“Pasien Tanpa Gejala (PTG) lalu diisolasi mandiri di rumah masing-masing, namun kami khawatir pasien tersebut justru akan menularkan ke orang lain,” kata Sutedjo di ruang kerjanya, Jumat (25/9).

Karena itulah, Pemkab menilai dibutuhkan shelter untuk mengisolasi para pasien agar bisa sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku. Lokasi selter akan disediakan pihak kapanewon dan kalurahan, kemudian kebutuhan logistik berupa makanan, minuman dan keperluan lainnya ditanggung oleh keluarga. “Penanganan Covid-19 memang perlu melibatkan partisipasi publik karena keterbatasan anggaran,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, dr Sri Budi Utami menambahkan, ada lima klaster besar yang menyebabkan tingginya penyebaran Covid-19 di Kulonprogo. Kelimanya yakni Klaster Lendah yang menyumbang 11 kasus, Klaster Srikayangan dengan 11 kasus, Klaster Palihan tujuh kasus, Klaster Gunung Gempal 13 kasus dan Klaster Arisan Tlogolelo 25 kasus.

“Kami sudah berupaya mencegah penambahan kasus dengan melakukan tracing dan rapid test,” kata dr Sri Budi.

Diakuinya, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Kulonprogo baru sebesar 49 persen atau lebih rendah dibandingkan tingkat kesembuhan di DIY yang sebesar 69 persen. Hal ini dikarenakan Kulonprogo memasuki puncak penambahan pasien pada Agustus dan September, sedangkan kabupaten/kota lain di DIY sudah berlangsung sebelumnya.

“Selain itu, kapastas isolasi juga terbatas, ditambah tingkat disiplin masyarakat yang masih kurang serta kondisi rumah tidak memenuhi syarat isolasi mandiri,” kata dr Sri Budi.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Fajar Gegana dalam rapat koordinasi penanganan Covid-19 meminta agar acara hajatan dan keagamaan tidak digelar tanpa seizin pihak berwewenang. Hal ini demi menjaga keamanan masyarakat terutama dari penyebaran Covid-19.

“Kami tidak melarang, tapi ini demi kebaikan bersama,” kata Fajar. (Unt)

Read previous post:
WARGA BERSIAGA DI KALI PROGO TOLAK PENAMBANG PASIR-Siap Usir Alat Berat, Sesalkan Sikap Lurah

Close