Alih Fungsi Lahan Tinggi, Kulonprogo Susun Survei Cetak Sawah Baru

WATES (HARIAN MERAPI) – Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menyusun survei investigasi desain cetak sawah baru dengan potensi lebih dari 135,5 hektare pada 2020 dan akan dicetak pada 2021.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Aris Nugraha, Rabu (10/6), mengatakan potensi lahan untuk cetak sawah baru sangat luas, hanya saja terkendala pada kemampuan anggaran daerah.

“Cetak sawah baru dari 2015 sampai 2019 di Kulonprogo mencapai 155 hektare. Pada 2020 ini, Dinas Pertanian dan Pangan membuat survei investigasi desain (SID) dan dicetak pada 2021 seluas 135,5 hektare,” kata Aris dilansir Antara.

Ia mengatakan Pemkab Kulonprogo setiap tahun menyusun SID cetak sawah baru, tapi baru seluas 50 hektere per tahun, padahal potensinya lebih dari 400 hektare. Program cetak sawah baru ini adalah program strategis pembangunan di Kabupaten Kulon Progo. Hal ini mengingat alih fungsi lahan di wilayah ini sangat tinggi, dampak dari pembangunan Bandara YIA.

Kulonprogo mendapat anggaran dari pemerintah pusat untuk cetak sawah baru terakhir pada 2015 seluas 50 hektare. Setelah itu, anggaran cetak sawah baru menggunakan APBD kabupaten. “Kami menyadari cetak sawah baru menjadi program strategis Kulon Progo untuk mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Banyuroto, Kecamatan Nanggulan, Fitri Abdiyanto mengatakan potensi cetak sawah baru di Desa Banyuroth seluas 270 hektare. “Pemerintah Desa Banyuroto sudah memetakan potensi lahan cetak sawab baru dan jalur irigasi yang dibutuhkan. Persoalan utamanya yakni pendanaan untuk pelaksanaan cetak lahan sawah,” kata Fitri.

Ia mengatakan Pemerintah Desa Banyuroto sudah mengajukan proposal cetak sawah baru kepada Pemkab, khususnya Dinas Pertanian dan Pangan bersama DPUPKP Kulonprogo. “Kami berharap ada langkah cepat dari Pemkab. Potensi cetak sawah baru ini akan memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Kulonprogo ke depan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Banyuroto, Kecamatan Nanggulan, Suroto mengatakan untuk mendukung cetak sawah baru dibutuhkan jaringan irigasi pendukung. Masyarakat Desa Banyuroto secara swadaya telah membangun jaringan irigasi secara bergotong royong setiap Sabtu dan Minggu.

Masyarakat Desa Banyuroto menyadari sektor pertanian sebagai penopang kehidupan mereka. Di Desa Banyuroto ada lahan pertanian tadah hujan seluas 638 hektare. “Lahan ini bisa dimanfaatkan secara optimal bila didukung saluran irigasi yang memadai. Selain itu, pembangunan irigasi akan mendukung percepatan cetak sawah baru seluas 270 hektare di Desa Banyuroto,” katanya.

Wakil Ketua I DPRD Kulon Progo Ponimin Budi Hartono mengatakan alih fungsi sawah dari 2016 hingga saat ini lebih dari 400 hektare yang digunakan untuk pembangunan bandara dan jalan pendukung bandara, sehingga perlu adanya lahan pengganti untuk ketahanan pangan ke depan.

“Alih fungsi sawah ini harus diatasi dengan cetak sawah baru, supaya ketahanan pangan tetap terjaga, dan di sisi lain pembangunan program nasional tetap berjalan,” kata Ponimin. (*)

Read previous post:
Narik Penumpang, Mitra GrabBike Gendong Pelindung Partisi

Close