Tiwul Aneka Rasa Disukai Anak Muda

TAK banyak anak muda yang peduli dengan pangan lokal lantaran lebih suka mengonsumsi makanan modern. Atas dasar itulah, warga Kulonprogo, Sri Mulyati memproduksi pangan lokal berupa tiwul dengan beragam varian rasa yang disukai anak muda.

Di kediamannya, Kopat Karangsari Pengasih Kulonprogo, Sri memproduksi tiwul bersama keluarganya. Usaha pembuatan makanan khas Gunungkidul ini dilakukan lantaran Sri berkeinginan mengembangkan tiwul agar tetap bertahan di pasaran.

“Jangan sampai makanan tradisional dengan bahan pangan lokal justru kalah dengan makanan modern seperti roti,” kata Sri, Kamis (2/4).

Sri memilih tiwul sebagai makanan tradisional yang wajib dikembangkan lantaran bahan baku pembuatannya mudah didapat. Singkong kering sebagai bahan utamanya, selama ini banyak dijumpai di pasaran. Bahkan tidak sedikit masyarakat di pedesaan yang menanamnya.

“Bikinnya juga gampang. Cuma dihaluskan, dicampur dengan parutan kelapa lalu diberi bumbu sebelum dicetak dan dikukus,” imbuh Sri.

Agar bisa menarik minat anak-anak muda, Sri lantas berinovasi. Ia membuat tiwul dengan beragam varian rasa mulai dari rasa kacang, keju, coklat dan stroberi. Bahkan, Sri juga membuat tiwul yang cukup unik yakni tiwul sayur.

Ia menerangkan, tiwul sayur hanya dibuat dengan mengukus singkong kering dan menghaluskannya tanpa diberi kelapa. Tiwul ini kemudian disantap dengan sayur urap sebagai pengganti nasi. “Mau yang original juga ada. Rasanya gurih,” jelasnya.

Sri kemudian memasarkan tiwul aneka rasa produksinya dalam lingkup lokal. Harganya bersahabat, yakni Rp 9.000 per kotak untuk original dan Rp 12.000 per kotak untuk aneka rasa.

Meski belum lama dibuka, namun Sri mengklaim usaha pembuatan tiwul miliknya sudah diterima pasar. Cukup banyak konsumen yang mengonsumsi tiwul buatannya karena rasa makanan tradisional itu dianggap pas di lidah warga Kulonprogo. “Dalam sehari saya bisa menjual hingga 50 kotak,” sebut Sri.

Lantaran murah dan enak, tiwul aneka rasa berhasil menarik minat anak-anak muda. Dewa (20) warga Wates misalnya, suka dengan tiwul sejak lama karena enak dan sehat tanpa kandungan zat berbahaya bagi kesehatan. “Saya beli dua kotak tiwul rasa coklat untuk camilan keluarga,” ujarnya. (Unt)

 

Read previous post:
Inflasi DIY Masih Terjaga Selama Bulan Maret

Close