Sistem Tanam Padi TOT Ala Ngadirin Diapresiasi Dinas Pertanian Kulonprogo

WATES (HARIAN MERAPI) – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo saat ini tengah mengkaji sistem tanam padi Tanpa Olah Tanah (TOT). Selain menghemat biaya produksi, sistem ini juga diyakini mampu menghasilkan panen yang lebih baik.

Kepala DPP Kulonprogo, Muh Aris Nugraha menjelaskan, sistem tanam padi TOT dilakukan dengan menggunakan mulsa plastik bekas tanam cabai. Sistem ini merupakan inovasi dari salah satu petani warga Bendungan, Wates, Ngadirin.

“Pak Ngadirin menanam padi dengan sistem TOT, dimulai pada Musim Tanam (MT) I tahun ini,” kata Aris, Selasa (31/3).

Dijabarkannya, pada MT III tahun lalu, Ngadirin menanam cabai menggunakan mulsa plastik. Kemudian setelah tanaman cabai dipanen, mulsa tidak dilepas, tapi digunakan untuk menanam padi. “Beliau menggunakan benih hibrida mapan yang sebelumnya telah melalui proses persemaian di tempat lain selama 15 hari,” imbuhnya.

Benih ini lantas ditanam di lubang bekas tanaman cabai. Satu lubang berisi satu batang benih padi berjarak 40 cm dengan pola jajar legowo. Pemupukan juga dilakukan di dalam mulsa. Aris mengaku sudah melakukan pengecekan di lapangan. Ia menilai, pertumbuhan padi yang ditanam dengan sistem TOT sangat memuaskan. Setiap batang bisa tumbuh 40 rumpun. “Ini luar biasa,” katanya.

Saat ini, Aris masih menunggu panen padi yang dihasilkan sistem TOT tersebut. Namun pihaknya memperkirakan, produktivitas padi ini akan baik. Ia juga menyebut, ada sejumlah keunggulan tanam padi sistem ini, di antaranya hemat biaya produksi dan bebas hama. Petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa traktor.

Selain itu, biaya pemeliharaan tanaman juga lebih hemat karena tidak membutuhkan penyiangan. Sistem ini bisa membuat tanaman padi tumbuh tanpa gulma lantaran tertutup mulsa. Aris bahkan mengklaim, mulsa plastik itu bisa digunakan hingga tiga kali musim tanam.

“Selanjutnya, kami akan lakukan pengkajian dan pebandingan dengan sistem biasa. Analisa dilakukan hingga masa panen, pertengahan April. Jika lebih menguntungkan, akan disebarluaskan agar bisa diterapkan semua petani terutama yang menggunakan pola tanam padi-padi-cabai,” jelasnya.

Terpisah, petani yang menggagas sistem TOT, Ngadirin menyampaikan, pihaknya menanam padi dengan sistem itu di lahan seluas 3.500 m2. Sistem ini dipakainya demi menghemat biaya tanam. “Karena TOT, kita tidak perlu sewa traktor. Perawatannya juga lebih mudah, tidak menguras tenaga karena rumputnya sedikit,” kata Ngadirin.

Ngadirin berpendapat, sistem ini sangat menguntungkan petani. Karena itulah, dirinya mendorong agar para petani di Kulonprogo bisa menerapkan sistem yang sama dalam penanaman padi. (Unt)

Read previous post:
Polisi Kerahkan Kendaraan Taktis Semprotkan Disinfektan

Close