GELIAT USAHA KUE RUMAHAN-Kualitas Cita Rasa Jadi Kunci

TERLAHIR dari keluarga produsen kue, Noor Illiyin akhirnya mantap menekuni bisnis yang sama sejak tiga tahun silam. Bisnis yang akhirnya menjadi sumber penghasilan keluarga ini, dijalani Iin dengan senang hati tanpa menargetkan banyak penjualan.

Dalam perbincangan santai dengan Merapi, Kamis (5/9), Iin mengaku tidak memiliki banyak modal untuk memulai usahanya. Saat itu, ia hanya mengandalkan keyakinan dan kerja keras. Sementara keahlian dalam membuat kue, diperoleh Iin dari hasil kursus online.

“Sekarang kan ibu-ibu rumah tangga memang digalakkan untuk jualan online, ya baju, ya kue. Saya melakoni keduanya,” Iin.

Saat orangtuanya berbisnis kue, Iin sempat berjualan batik dan baju. Ia lantas mulai melebarkan sayap memproduksi kue setelah pindah dari daerah asalnya Sidoarjo ke Kulonprogo. Iin kemudian menjadikan kediamannya di RT 02 RW 12, Wonosidi Lor, Wates, sebagai rumah produksi.

Tak ingin fokus pada satu produk saja, Iin membuat sejumlah kue, mulai dari donat, brownies panggang, cake tape, bingka, hingga salad dan puding buah. Seluruhnya diklaim Iin disukai konsumen langganannya.

“Alhamdulillah, semua laris. Setiap hari ada saja yang pesan ke sana,” imbuh perempuan berusia 45 tahun ini.

Iin mengaku butuh waktu lama untuk menemukan resep yang pas dalam produksi kuenya. Bahkan hingga kini, perempuan berjilbab ini tak henti-hentinya bereksperimen agar bisa menghasilkan adonan yang pas. Donat misalnya, harus lembut, empuk dan mengembang sempurna.

?Bahan-bahan yang digunakan Iin pun tidak sembarangan. Ia sengaja memilih bahan berkualitas nomor satu untuk produknya agar bisa menghasilkan cita rasa kue yang lezat. Lidahnya memang sudah terbiasa dengan makanan istimewa sehingga tak mau membuat produk asal-asalan dengan harga murah.

“Memang, saya tidak mau membuat produk yang murahan. Ketika beli produk lain kemudian rasanya amburadul, biasanya saya ngomel karena nggak puas,” ujarnya sambil tertawa.

Lantaran kualitas dan harga produknya tidak asal-asalan, Iin punya sasaran konsumen khusus, yakni kelas menengah ke atas. Mayoritas konsumen yang membeli produknya adalah orang-orang yang paham dengan rasa. Iin pun mengaku tidak takut digempur dengan produk-produk murahan karena merasa yakin, konsumennya tidak akan berpaling.

Pada prinsipnya, Iin merasa percaya bahwa rasa istimewa akan membuat konsumen tidak ragu-ragu membayar lebih. Untuk donat misalnya, dijual Iin dengan harga Rp 30.000 per lusin. Kemudian brownies panggang Rp 55.000 per kotak, cake tape Rp 35.000, bingka kentang Rp 50.000 serta salad buah Rp 20.000 per kemasan 400ml.

“Donatnya, saya berani bersaing dengan merk ternama. Kemudian untuk salad saya pakai 10 jenis buah berkualitas dengan saus istimewa,” ucap ibu dua anak ini.

Produk-produk ini kemudian diberi label Quiin. Pemasarannya hanya dilakukan dari mulut ke mulut, serta mengandalkan reseller dan media sosial seperti facebook dan instagram. ?Berdasar pengalamannya selama ini, konsumen yang sudah mencoba produk Quiin selalu ketagihan untuk membeli lagi.

Ditanya terkait kendala yang dihadapi, Iin mengaku tak pernah menjadikannya penghambat usaha. Semua dilakoni dengan senang hati. Terlebih, memasak dan membuat kue sudah menjadi hobinya sejak lama.

Kendati demikian, Iin mengaku belum bisa maksimal dalam memasarkan produknya. Selain terkendala ?alat produksi, ia juga masih mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Hingga kini, Iin belum menemukan karyawan untuk membantu usahanya. Produk-produk kue Quiin hanya dibuat Iin berdasarkan pesanan. Selain keterbatasan alat dan tenaga, ia juga ingin kue buatannya selalu fresh karena dibuat tanpa bahan pengawet.

“Ke depan, saya ingin usaha ini semakin berkembang. Saya juga sangat ingin punya outlet khusus untuk memasarkan produk-produk Quiin,” pungkasnya. (Unt)

Read previous post:
BISA CAPAI SEUKURAN BANTAL-Sang Predator Pacu Albino Jadi Ikan Hias

BERAGAM jenis ikan layak dijadikan sebagai klangenan, apalagi mempunyai beberapa karakter khas. Terutama karakter ciri fisik maupun tingkah laku, sehingga

Close