Rehabilitasi Intake Kalibawang Dipercepat

WATES (MERAPI) – Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Kulonprogo bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak mempercepat rehabilitasi Intake Kalibawang agar tidak mengganggu produksi padi.

Kasi Konservasi Sumber Daya Air Dinas Permukiman Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Kulonprogo Kuntarso, Jumat (1/2), mengatakan bahwa pada awal Januari 2019, proyek percepatan rehabilitasi Intake Kalibawang dimulai dengan pertimbangan skala prioritas.

“Pada percepatan rehabilitasi Intake Kalibawang ada delapan proyek yang sudah dikerjakan sejak awal Januari. Kami menargetkan proyek ini cepat selesai supaya tidak mengganggu produksi padi di Kulonprogo,” katanya dilansir Antara.

Delapan proyek percepatan rehabilitasi Intake Kalibawang, yakni pelaksanaan saluruan tersier, saluran drainase Gendong, rehabilitasi jembatan Bendung Pekik Jamal, pembangunan jembatan operasional di atas Bendung Papah, rehabilitasi jalan inspeksi, pembangunan terowong satu unit di aluran Sekolan Donomulyo Kanan, saluran Sekolan Monggang dan normalisasi saluran tanah di Donomulyo.

“Kalau dimungkinkan kami juga akan merehabilitasi anak irigasi dari Intake Kalibawang berdasarkan usulan-usulan dari desa serta pihak-pihak lain sepanjang dananya tidak melampaui pagu,” ujar anggota Komisi Pengairan Kulonprogo ini.

Kuntarso mengatakan, proyek percepatan rehabilitasi Intake Kalibawang secara tahun jamak pada 2018 sudah menyelesaikan beberapa proyek sarana dan prasanara fisik di antaranya Talang Bowong di KM 15 dan telah berfungsi untuk melaksanakan masa taman (MT) I untuk golongan I, serta MT II golongan II T khususnya di Kejuron Donomulyo, Penjalin dan Papah serta Pengasih sekalipun mengalami keterlambatan khususnya MT 1 Gol 1 di Kejuron Kalibawang, Donomulyo dan sebagian Penjalin.

“Sampai saat ini, pasca rehab Talang Bowong debit air dari Intake Kalibawang dipertahankan 7 meter kubik/detik sehingga sampai di bangunan bagi Kemukus KM 25 sebesar 3,5 hingga 3,8 meter kubik/detik,” katanya.

Dengan dimatikan jaringan Sistem Irigasi Kalibawang, lahan seluas 3.936 hektare di wilayah Kulon Progo tidak mendapat air. Jaringan sistem irigasi Kalibawang meliputi Kejuron atau Gabungan P3A Papah, Donomulyo Hilir, wilayah Kejuron/GP3A Pekik Jamal Kiri dan Pekik Jamal Kanan.

Sementara itu, anggota DPRD Kulonprogo Suharmanto mengatakan bahwa kalau dibandingkan dengan saluran irigasi Selokan Mataram (Sleman), dan saluran irigasi Van Der Wijk yang menuju Bantul, air Intake Kalibawang melimpah. Komisi Pengairan Kulonprogo perlu belajar manajemen penggunaan air di saluran Selokan Mataram dan Van Der Wijk.

Pada saluran tersebut, pembersihannya dilakukan setiap Selasa, selebihnya mengalir. “Kalau kita lihat tetangga Kabupaten Sleman dan Bantul, petani lebih makmur,” katanya.

Menurut dia, perbaikan yang sering di saluran irigasi Kalibawang memang tidak bisa dikesampingkan karena faktor medan yang lebih berat di Kulonprogo, namun demikian jangan jadi proyek abadi yang setiap tahun polanya sama, harus menutup dan mematikan saluran irigasi Kalibawang.

Kalau dibandingkan saluran Selokan Mataram dan Van Der Wijk dengan saluran irigasi Kalibawang lebih banyak dilakukan perbaikan saluran Kalibawang. “Untuk itu, kami minta penutupan irigasi Kalibawang ditinjau kembali karena mempengharuhi hidup petani. Ke depan, kalau bisa membuat bendungan baru untuk memanfaatkan air Sungai Progo,” paparnya. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Banyak Hunian Dibangun di Sempadan Sungai

SLEMAN (MERAPI) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, mencatat masih banyak hunian dibangun di daerah sempadan sungai termasuk

Close