SELATAN NYIA DIBANGUN WIND BARRIER – Petambak Udang Diharapkan Kosongkan Lahan

Situasi proyek pembangunan Bandara NYIA di Kecamatan Temon. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Situasi proyek pembangunan Bandara NYIA di Kecamatan Temon. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

WATES (MERAPI) – Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulonprogo mengharapkan penambak udang di selatan proyek Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) supaya mengosongkan kolam tambak, karena akan dibangun kawasan penyangga bandara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna, Selasa (22/1), mengatakan awal Maret akan dilakukan pembangunan kawasan penyangga bandara atau wind barrier di sisi selatan pagar bandara.

“Kami telah melakukan sosialisasi kepada penambak udang di selatan proyek NYIA terkait dengan rencana beroperasinya bandara pada 9 April 2019 mendatang. Kami mengumpulkan petambak udang ini sebagai upaya meminimalisir kerugian yang akan terjadi jika nanti pembangunan wind barrier. Bagi yang mau menebar benih agar bisa menyesuaikan dengan waktu,” kata Sudarna dilansir Antara.

Ia mengatakan ada kebijakan yang akan diambil untuk mendukung percepatan pembangunan tersebut yang diprediksi bisa merugikan petambak di sisi selatan pagar bandara. Namun demaikian, DKP akan perjuangkan untuk zona tambak di Trisik hingga 75 hektare dari luasan sebelumnya 25 hektare.

“Kalau usulan zona tambak udang di Trisik ini disetujui Pemda DIY, petambak udang di selatan bandara akan direlokasi di sana,” paparnya.

Sudarna mengakui lahan tambak udang di sisi selatan bandara tidak sesuai RTRW. Namun demikian, ia mengucapkan terima kasih kepada petambak udang yang telah berusaha budi daya udang secara mandiri.

“Kami berharap secara mandiri, petambak menghentikan aktivitas budi daya udang. Kami menyadari, potensi budi daya udang sangat tinggi, tapi ini Bandara NYIA merupakan proyek strategis nasional yang harus didukung semua pihak. Kami akan segera mengkaji potensi lokasi pengembangan budi daya udang,” katanya.

Salah satu petambak udang di Palihan, Muhri mengatakan dirinya terpaksa menambak di sana karena tidak ada lahan lain. “Kami berharap ada solusi supaya kami tetap melakukan budi daya udang, sehingga kami tetap bekerja dan mendapat penghasilan,” ucapnya.

Petambak udang Jangkaran Purwoko mengatakan dirinya baru tebar benih 10 hari. Ia berharap ada kebijakan khusus, supaya dapat dipanen baru dibongkar. “Tambak saya baru tebar benih 10 hari bagaimana nanti,” katanya. (*)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Yogya Antisipasi Kelemahan PPDB Berbasis Zonasi

UMBULHARJO (MERAPI) - Kajian peraturan zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020 di Kota Yogyakarta ditargetkan segera ada

Close