Retakan Tanah Muncul di Perbukitan Menoreh

Warga mengamankan lokasi longsor lantaran materialnya menutup sebagian jalan. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Warga mengamankan lokasi longsor di Kulonprogo beberapa waktu lalu. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

WATES (MERAPI) – Sejumlah retakan tanah bermunculan di wilayah perbukitan Menoreh, Kulonprogo beberapa waktu ini, sebagai dampak tingginya curah hujan di wilayah tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo pun mengkawatirkan jika retakan-retakan tanah tersebut saling terkoneksi, sehingga bisa menimbulkan longsor luncuran yang mengancam banyak korban.

Kepala BPBD Kulonprogo, Gusdi Hartono mentatakan, sebagai upaya antisipasi, pihaknya berencana melakukan kajian dengan menggandeng tim Geologi UGM. “Sejumlah retakan tanah yang muncul di beberapa wilayah utara Kulonprogo akan dikaji secara serius karena kami tidak mau kecolongan. Jika dugaan adanya hubungan antar retakan tersebut benar, longsoran dengan tipe sliding atau luncuran bakal memakan banyak korban,” jelasnya, Rabu (14/3).

Gusdi menguraikan, sejumlah retakan tanah di perbukitan Menoreh yang muncul terdapat di Dusun Soropati Desa Hargotirto Kecamatan Kokap, Dusun Jeruk Desa Gerbosari Kecamatan Samigaluh, Dusun Nogosari Desa Purwosari Kecamatan Girimulyo serta Dusun Gerpule Desa Banjarharjo dan Dusun Klepu Desa Banjararum Kecamatan Kalibawang. Gusdi mengaku sudah melihat sejumlah kejadian tanah longsor di beberapa kabupaten lain seperti di Brebes.

“Longsoran itu karena adanya retakan yang muncul dan saling berhubungan. Kami tidak mau kecolongan dan akan melakukan kajian,” tegasnya.

Tahun ini, ada tiga tempat retakan tanah yang menjadi prioritas untuk dikaji yakni di Kecamatan Kalibawang, Kecamatan Girimulyo serta Kecamatan Samigaluh. Retakan yang mengkhawatirkan ada di Dusun Klepu karena terhubung dengan retakan tanah di Dusun Nogosari.

Agar hasilnya maksimal, pengkajian bakal melibatkan Geologi UGM. Setelah pengkajian, akan diketahui apakah retakan-retakan tersebut saling berhubungan dan mengakibatkan longsor atau tidak, sehingga mampu memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk segera menindaklanjuti.

“Nanti diambil langkah cepat, misal sosialisasi kepada masyarakat ata bahkan perencanaan relokasi,” terangnya.

Pengkajian akan dilanjutkan pada 2019 mendatang. Menurut Gusdi, pada masa itu pengkajian retakan tanah dilakukan secara menyeluruh di seluruh perbukitan Menoreh agar tidak terjadi dampak yang besar. “Intinya, kami berupaya agar bencana di Kulonprogo tidak menelan korban jiwa,” ujarnya. (Unt)

Read previous post:
Pasar Wates Menuju Pasar Induk

WATES (MERAPI) - Pasar Wates diwacanakan menjadi pasar induk atau pasar ibukota di wilayah Kulonprogo, dalam waktu dekat. Peningkatan status

Close