Rumah Dirobohkan Tapi Ganti Rugi Belum Cair, Mantan Penolak Bandara Wadul Help Desk

Proses pembersihan lahan Bandara NYIA di Temon Kulonprogo. (Antara Foto)
Proses pembersihan lahan Bandara NYIA di Temon Kulonprogo. (Antara Foto)

TEMON (MERAPI) – Warga terdampak pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon yang merupakan mantan anggota paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) penolak bandara, mendatangi Kantor Pelayanan Informasi Terpadu Help Desk NYIA di Desa Palihan, Senin (12/2).

Mereka menyampaikan sejumlah permasalahan yang dihadapi, mulai dari proses konsinyasi, belum adanya lapangan pekerjaan bagi warga terdampak, hingga nasib warga yang belum mendapat ganti rugi sementara rumahnya telah dirobohkan.

Perwakilan warga, Andung Sumulyo menyampaikan, mereka yang datang ke Help Desk sudah berubah pikiran mendukung pembangunan Bandara NYIA sepenuhnya. Namun hingga kini, mantan anggota WTT ini masih dihadapkan sejumlah persoalan yang dinilai perlu diketahui dan disampaikan kepada pemangku kepentingan.

“Kami berharap setelah datang ke sini bisa segera mendapat solusi,” katanya.

Andung menjabarkan, saat ini ada sejumlah lahan milik warga WTT yang hilang lantaran tidak ada kejelasan terkait ganti rugi. Warga tidak mengerti, apakah ganti rugi bidang yang hilang tersebut ikut dikonsinyasikan atau tidak.
Masalah lainnya yang muncul, lanjut Andung, yakni minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan bagi mereka. Warga terdampak yang terserap menjadi pekerja dalam proyek pembangunan Bandara NYIA jumlahnya belum seberapa. Warga bahkan menyayangkan adanya pekerja dari luar daerah yang justru dipekerjakan sebagai buruh kasar, padahal banyak warga terdampak yang menginginkan pekerjaan tersebut.

“Selain itu, ada pula sekitar 10 KK yang saat ini terpaksa mengontrak karena rumahnya sudah dirobohkan. Tidak ada pemangku kepentingan yang sekedar <I>ngaruhke<P> sehingga kami merasa kurang diperhatikan,” sesalnya.
Warga yang kini mengontrak, beber Andung, sebelumnya merupakan warga penolak. Rumah mereka telah dirobohkan sebelum ganti rugi diberikan, tanpa disertai Surat Pemberitahuan (SP) I, II dan III. Akibatnya, warga yang mengontrak rumah di sekitaran Temon harus mengeluarkan uang cukup banyak, sekitar Rp 650.000 per bulan.

“Memang ada yang ganti ruginya sudah dibayarkan langsung, tapi sebagian besar masih proses konsinyasi tahap deskresi sehingga kami berharap segera selesai,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Supervisor Help Desk NYIA PT Angkasa Pura I, Ariyadi Subagyo mengungkapkan, saat ini konsinyasi bagi warga belum bisa diberikan lantaran ketika bidang tanah dan aset di atasnya diukur oleh tim appraisal, jangka waktu sudah habis atau di luar batas yang ditentukan oleh undang-undang. Dengan demikian, diperlukan deskresi atau pengukuran susulan.

“Pada saat BPN dan tim appraisal akan mengukur sempat tidak diperbolehkan. Akhirnya ukuran dibuat dengan cara pembidangan dari jauh, ini menjadi risiko, termasuk perbedaan harga yang ditentukan oleh tim appraisal,” jelasnya.

Meski demikian, perbedaan harga telah dicarikan solusinya oleh instansi terkait. Pihaknya pun berharap, deskresi bisa segera diselesaikan untuk mengatasi persoalan yang ada. Warga yang saat ini mengontrak diharap bersabar hingga uang ganti rugi dicairkan. “Sementara terkait lapangan kerja, PT Angkasa Pura I telah menyelenggarakan sejumlah pelatihan kerja,” ujarnya. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-NOOR RIZKA Iv dan Ka (memakai penutup kepala), pelajar SMP ditetapkan sebagai tersangka atas kepemilikan sajam.
Ikut Geng Klitih, 2 Siswa SMP Jadi Tersangka

JETIS (MERAPI) -Dua pelajar SMP ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polresta Yogya karena tergabung dalam geng klitih, Senin (12/2). Keduanya

Close