BEBRAYAN – Dengar Rintihan

”MAS, saat arisan di rumah Jeng Nina (nama tak sesuai asli), Mbak Fani (nama samaran) bercerita panjang lebar tentang perilaku seks suaminya yang medeni,” tutur Jeng Noni Dewi saat duduk bersama suaminya di ruang tengah rumahnya suatu malam.

“Lho? Wong namanya saja bercinta, kok bisa medeni?”

“Lha ya itu lho, saya juga jadi heran. Padahal mereka sudah sekitar tiga tahun menikah.”

“Belakangan, suaminya sering berlaku kasar saat berhubungan seks.”

“Welhadalaah! Kasarnya gimana, Jeng?” tanya Mas Behi.

“Ketika sedang panas-panasnya bercinta, suaminya sering memukul, mencengkeram lengan Jeng Fani amat kuat hingga membuatnya merintih kesakitan!”

“Welha, apa Jeng Fani sudah mengkolsultasikan masalah itu ke dokter spesialis seksologi?”

“Sudah Mas. Bahkan Jeng Fani berani bertanya kepada suaminya, kenapa melakukan perbuatan seperti itu.”

“Apa jawab suaminya?”

“Katanya, suaminya mengaku mendapat kepuasaan saat mendengar Jeng Fani merintih kesakitan.”

“Lalu, apa kata dokter konsultan Jeng Fani?”

“Menurut konsultannya, perbuatan suami Jeng Fani sudah merupakan penyimpangan (deviasi seks). Boleh jadi, kalau rintihannya bertambah keras, suaminya bisa menjadi lebih bergairah.”

“Lalu apa saran dokter?”

“Jeng Fani malah disuruh merintih kalau sedang berada dalam puncak <I>making love<P>, agar sang suami tidak punya alasan untuk mencengkeram.”

“Betul juga saran itu. Tapi bercintanya tentu di tempat yang spesial, jangan sampai kedengaran mertua atau tetangga. Kalau rumahnya memang aman untuk merintih, saya menganjurkan pada Jeng Fani untuk berteriak saja, biar sang suami ….” (Jbo)

Read previous post:
Racikan Lada – Daun Pepaya Meningkatkan Kepekaan Kewanitaan

HERBALIS Sulistyo rupanya banyak peduli tentang obat-obat tradisional yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan reproduksi yang dialami kaum adam

Close