“Dipanggil” Polisi, Ternyata Ngadiyo Diberi Tiket Umrah

 Ngadiyo (berkaus merah) bersyukur bakal umrah gratis. (MERAPI-Abdul Alim)
Ngadiyo (berkaus merah) bersyukur bakal umrah gratis. (MERAPI-Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Ngadiyo memilih tertunduk diam daripada menjelaskan lebih jauh status taman baca Abunawas ke seorang perwira polisi di hadapannya. Ia terlihat makin cemas saat petugas itu memberikan surat ‘panggilan’.

“Ini kan taman baca. Sudah ada izin belum? Saya datang ke sini membawa surat panggilan buat bapak. Panggilannya bukan ke kantor polisi, tetapi ke Tanah Suci!” tutur Kapolres Karanganyar AKBP Henik Maryanto kepada Ngadiyo di taman baca yang terletak di Dukuh Jenak, Rt 01/Rw I Desa/Kecamatan Ngargoyoso, Jumat (2/3).

Ngadiyo terhenyak, seakan tak mempercayai pendengarannya. Kapolres memeluk bahu guru ngaji itu seraya mengulangi lagi perkataannya. Secarik kertas berkop surat Yayasan Sedekah Umrah Nasional (SUN) dibacakannya keras-keras, bahwasanya Ngadiyo terpilih ikut program panggilan umrah ke-17.

“Allahuakbar. La Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Allahuakbar. Ya Allah, Gusti Allah,” ucap Ngadiyo sambil menangis haru kemudian sujud syukur.

Ia dan istrinya, Samiyem saling menatap tanpa berbicara. Masih beraut muka kaget bercampur lelehan air mata, keduanya lalu berpelukan.

Kapolres Karanganyar tidak sendirian menyampaikan kabar gembira itu. Ia didampingi komunitas Pejuang Social Community (PSC), Lentera Shadaqah Sabilillah (LSS), dan SUN.

“Enggak pernah bermimpi umrah. Kalau punya duit sisa, dipakai beli buku buat taman baca. Saya ini hanya lulusan SD. Kepinginnya, anak-anak jangan bernasip seperti saya. Mereka harus pinter. Ternyata Allah punya jalan lain,” tutur Ngadiyo.
Taman Baca Abunawas di Dukuh Jenak dirintisnya sejak 2008 dengan merelakan sebagian rumah. Buku-buku koleksi dibelinya dari hasil bekerja serabutan dan sumbangan donatur. Terdapat buku iqra, kisah nabi dan rasul, cerita bergambar dan sebagainya. Kebanyakan buku bekas dikoleksi Taman Baca Abunawas.

“Mau makan besok pagi pakai apa, masih mikir. Wajar saja saya kaget begitu ditanya pak polisi izin taman baca. Mau ngurus izin duit dari mana? Saya yang orang kecil seperti ini diminta menghadap ke Tanah Suci. Subhanallah,” katanya.
Rumahnya terbuka lebar tiap hari bagi anak-anak yang ingin membaca. Bahkan ia mengajari mereka membaca Alquran dan menulis hijaiyah tiap Selasa-Minggu.

“Tujuannya anak-anak mengenal Alquran. Membekali mereka. Ini lillahi ta’ala,” kata pria yang sehari hari berjualan daun singkong dan ubi itu.

Dari jualannya, pria dua anak ini memperoleh uang tak sampai Rp 50 ribu perhari.
Ketua Yayasan SUN, Dwi Purhayati, menuturkan tim sudah mengecek ke rumah dan mengobrol dengan Ngadiyo. Tim menilainya layak mendapatkan bantuan. Yayasan SUN memiliki program 1.000 paket umrah gratis se-Indonesia untuk jamaah dan duafa.
“Biaya ditanggung yayasan, mulai paspor sampai vaksin meningitis. Pak Ngadiyo cuman perlu menyiapkan fisik dan iman. Sudah ada 19 orang diberangkatkan umrah,” katanya. (Lim)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ILUSTRASI
PT KAI INGATKAN BAHAYA FOTO DI REL-Masinis Tak Mungkin Mengerem Mendadak

PURWOREJO (MERAPI)- Kasus warga yang tersambar kereta api saat berselfie di rel kereta di Purworejo ternyata tak hanya terjadi sekali

Close