Keris Buntel Mayit miliki makna wejangan hidup dari filosofi tali pocong

- Sabtu, 30 Juli 2022 | 08:30 WIB
Pamor watu lapak pada Keris Buntel Mayit.  (Koko Triarko)
Pamor watu lapak pada Keris Buntel Mayit. (Koko Triarko)

Keris itu juga bisa memuluskan jalan karier atau cita-cita pemiliknya. Keyakinan atau sugesti tersebut berangkat dari pemahaman pamor buntel mayit yang berupa ukiran benang melilit atau melingkar dari bawah sampai ujung keris atau mengerucut.

Hal itu diartikan sebuah fokus perjalanan yang terus menanjak lancar sampai tujuan yang diharapkan. “Pamor buntel mayit juga mengandung pemaknaan yang mendalam,” kata Mas Rukan.

Dia mengatakan, bahwa pamor buntel mayit dibuat sebagai wejangan agar selalu menjaga pikiran dan tindak-tanduk. Bahwa, semua tindakan dan pikiran manusia akan dipertanggung-jawabkan setelah mati.

Baca Juga: Kartu Prakerja: program bantuan sosial pertama di Indonesia yang inovatif, begini apresiasi Bank Dunia

Mas Rukan menjelaskan, ada tiga tali yang mengikat pada mayit atau jenazah alias pocong tersebut.

Pertama, tali pocong yang mengikat di atas kepala, kedua tali yang mengikat di atas perut dan ketiga tali yang mengikat di bawah kaki.

Tali pocong di atas kepala merupakan simbolisasi agar manusia selalu menjaga pikirannya.

Baca Juga: Pengalaman misteri Pak Diyo penjual sate ayam keliling yang sudah pikun, dapat rezeki setelah ketemu .......

Sedangkan tali di atas perut merupakan perlambang agar manusia menjaga setiap makanan yang ditelannya dari hukum halal dan haram.

Hal tersebut karena setiap makanan bisa mempengaruhi sikap dan tingkah laku serta kejiwaan, di samping juga tentu saja kesehatan.

Halaman:

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X