• Sabtu, 29 Januari 2022

Raden Mas Sandeyo Kiai Mlangi 2: Kerajaan Dipenuhi Sengketa Masalah Kepemimpinan dan Suksesi

- Senin, 18 Oktober 2021 | 07:10 WIB
Konflik keluarga Kerajaan Mataram karena pengaruh Belanda. (Ilustrasi Pramono Estu)
Konflik keluarga Kerajaan Mataram karena pengaruh Belanda. (Ilustrasi Pramono Estu)

MASIH dipenuhi perebutan kekuasaan, Amangkurat I pun meninggal di daerah Tegalwangi/Tegalarum. Sehingga Raden Mas Rahmat menjadi Raja tanpa Tahta dengan Gelar Amangkurat II.

Hal Ini disebabkan karena Plered sebagai ibukota Mataram saat itu diduduki dan dipertahankan oleh Pangeran Puger yang juga menjadi (Amangkurat II) dan lebih memilih mempertahankan Plered daripada mengungsi.

Karena Plered telah dikuasi oleh Pangeran Puger, Amangkurat II Raden Mas Rahmat kemudian memilih membangun Kraton baru dengan nama Kartosuro pada bulan September 1680.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 34: Masih ABG Dibawa Kabur Bapak-bapak

Masih ingin menjaga hubungan baik dengan saudaranya, Ia kemudian memanggil Susuhunan Ingalaga/Amagkurat II Pangeran Puger untuk bergabung dengannya.

Akan tetapi, niat bagi Raden Mas Rahmat mendapat penolakan oleh Pangeran Puger. Kejadian tersebut akhirnya menyebabkan terjadinya perang saudara tepatnya tanggal 28 November 1681.

Amangkurat II Raden Mas Rahmat dan Pangeran Puger memiliki perbedaan sikap yang sangat mencolok. Amangkurat II cenderung bersifat lemah hati dan tidak teguh pendirian, sedangkan Pangeran Puger bersifat sangat tegas.

Baca Juga: Kakak Kesurupan, Setannya Bilang Suka Sama Aku

Maka gelar Amangkurat II pada saat itu seperti simbol belaka, karena yang lebih banyak menjalankan roda pemerintahan saat itu adalah Pangeran Puger yang memang ditunjuk sebagai tangan kanan Amangkurat II Raden Mas Rahmat.

***

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X