• Sabtu, 4 Desember 2021

Mensyukuri Nikmat 18: Tabah Menerima Kenyataan

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 20:00 WIB
Yani Salat Tahajud untuk mohon ampunan dan bimbingan dari Allah SWT (Ilustrasi Sibhe)
Yani Salat Tahajud untuk mohon ampunan dan bimbingan dari Allah SWT (Ilustrasi Sibhe)


HIDUP Yani terasa semakin hampa. Kini dia sudah harus menjadi anak yatim piatu, saat kehidupan rumah tangganya belum mapan, bahkan diterpa badai hadirnya orang ketiga. Ingin rasanya mati saja, ikut bersama dengan kedua orang tuanya.

Yani merasa seolah hidupnya sudah tidak berguna lagi. Satu-satunya orang yang bisa menjadi sandarannya adalah sang suami. Namun kenyataannya suaminya harus berbagi hati dengan istri kedua, Darti.

Yani sampai jatuh pingsan berkali-kali, termasuk di makam saat pemakaman Pak Warjo. Upaya Purbo untuk menghibur dan menguatkan hatinya, terasa sia-sia.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 1: Suka Berdandan dan Berganti-ganti Pacar

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 2: Mencari Istri dengan Pertimbangan Harta

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 3: Baik Buruk Selalu Jadi Gunjingan

Warga yang menyaksikan peristiwa memilukan yang dialami Yani pun hanya bisa prihatin. Tak sedikit di antara mereka yang ikut meneteskan air mata, ikut merasakan betapa pedih jika harus mengalami nasib seperti Yani. Namun mereka semua hanya bisa memberikan dukungan moril, tanpa bisa melakukan apa-apa lantaran bukan anggota keluarga.

Dari bisik-bisik yang mereka lakukan, umumnya hujatan diarahkan pada Purbo. Laki-laki yang tidak tahu diri, karena telah mengkhianati keluarga Warjo hingga secara tidak langsung mengakibatkan jatuhnya dua korban jiwa.

Sampai beberapa hari usai pemakaman sang ayah, Yani masih belum bisa mengatur emosinya. Seolah tak percaya dengan kenyataan yang dialami, hingga Yani tak mau makan sama sekali.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 4: Merasakan Hidup Jadi Orang Kaya

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 5: Ternyata Ada Wanita Lain

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X