• Selasa, 25 Januari 2022

Mensyukuri Nikmat 15: Ditinggal Ibu Selama-lamanya

- Sabtu, 9 Oktober 2021 | 05:00 WIB
Yani menangis di depan jenazah sang ibu. (Ilustrasi Sibhe)
Yani menangis di depan jenazah sang ibu. (Ilustrasi Sibhe)

KONDISI Bu Warjo kian hari kian parah saja. Beberapa kali suaminya berhasil memaksanya untuk berobat ke rumah sakit, namun tak lama kemudian minta pulang meski belum sembuh betul.

Yani sebenarnya sudah mencoba menghibur dengan ibunya, dengan menutupi kesedihan hatinya.

Yani tahu betul, ibunya jatuh sakti karena terlalu memikirkan dirinya yang tiba-tiba dimadu saat usia pernikahannya baru berlangsung beberapa bulan yang lalu.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 1: Suka Berdandan dan Berganti-ganti Pacar

Sebenarnya rasa sakit hati Yani juga tak tertahankan, namun rupanya kondisi ibunya jauh lebih rapuh. Yani mampu menyimpan keperihan itu untuk dirinya sendiri, sekaligus berharap ibunya juga ikut kuat menahan cobaan berat.

Begitu pula dengan Pak Warjo, sebenarnya sangat sedih melihat nasib putri semata wayangnya. Namun ia tak ingin memperlihatkan kesedihan itu, agar istrinya tak semakin parah dan juga Darti tak semakin terpuruk.

Berbagai upaya yang dilakukan Pak Warjo dan Yani demi kesehatan Bu Warjo sepertinya sia-sia. Kian hari kondisi Bu Warjo semakin memburuk, sampai akhirnya tubuh yang kurus kering itu tak bereaksi sama sekali.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 2: Mencari Istri dengan Pertimbangan Harta

Tangis Yani pun pecah, ketika mengetahui ibunya telah dipanggil Sang Khaliq. Harapannya untuk memberi sang ibu kebahagiaan dengan kehadiaran seorang cucu pun musnah sudah.

Saat dirinya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, ibu tercinta kini malah harus pergi untuk selama-lamanya. Lebih perih lagi, kepergian ibunya disebabkan oleh kelakuan suaminya alias menantunya sendiri.

Ingin rasanya Yani ikut serta ibunya, karena rasanya sudah tidak kuat menahan semua kesedihan hatinya. Namun sang ayah selalu mengingatkan dirinya untuk selalu mengucap Istighfar.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 3: Baik Buruk Selalu Jadi Gunjingan

Posisi serba salah dialami Purbo. Ia tahu penyebab sakitnya ibu mertua tak lain karena tindakannya menikah lagi dengan Darti. Berkali-kali ia sudah mengucap kata maaf, baik kepada mertua dan juga Yani.

Tapi rupanya kata maaf tak mampu mengubah nasib Bu Warjo.

Yang bisa dilakukan Purbo hanyalah membuat agar Pak Warjo dan istrinya tidak semakin sedih. Ia mencoba sekuat yang ia bisa, untuk menjadi menantu dan suami yang baik.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 4: Merasakan Hidup Jadi Orang Kaya

Bakti terakhir kepada Bu Warjo pun dilakukan, dengan kerja tak kenal lelah untuk mengurus segala sesuatunya dalam prosesi pemakaman. Ia tak peduli dengan semua omongan orang, yang penting dirinya masih punya niat yang baik. (Bersambung)



Halaman:
1
2

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X