• Sabtu, 4 Desember 2021

Mensyukuri Nikmat 15: Ditinggal Ibu Selama-lamanya

- Sabtu, 9 Oktober 2021 | 05:00 WIB
Yani menangis di depan jenazah sang ibu. (Ilustrasi Sibhe)
Yani menangis di depan jenazah sang ibu. (Ilustrasi Sibhe)

KONDISI Bu Warjo kian hari kian parah saja. Beberapa kali suaminya berhasil memaksanya untuk berobat ke rumah sakit, namun tak lama kemudian minta pulang meski belum sembuh betul.

Yani sebenarnya sudah mencoba menghibur dengan ibunya, dengan menutupi kesedihan hatinya.

Yani tahu betul, ibunya jatuh sakti karena terlalu memikirkan dirinya yang tiba-tiba dimadu saat usia pernikahannya baru berlangsung beberapa bulan yang lalu.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 1: Suka Berdandan dan Berganti-ganti Pacar

Sebenarnya rasa sakit hati Yani juga tak tertahankan, namun rupanya kondisi ibunya jauh lebih rapuh. Yani mampu menyimpan keperihan itu untuk dirinya sendiri, sekaligus berharap ibunya juga ikut kuat menahan cobaan berat.

Begitu pula dengan Pak Warjo, sebenarnya sangat sedih melihat nasib putri semata wayangnya. Namun ia tak ingin memperlihatkan kesedihan itu, agar istrinya tak semakin parah dan juga Darti tak semakin terpuruk.

Berbagai upaya yang dilakukan Pak Warjo dan Yani demi kesehatan Bu Warjo sepertinya sia-sia. Kian hari kondisi Bu Warjo semakin memburuk, sampai akhirnya tubuh yang kurus kering itu tak bereaksi sama sekali.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 2: Mencari Istri dengan Pertimbangan Harta

Tangis Yani pun pecah, ketika mengetahui ibunya telah dipanggil Sang Khaliq. Harapannya untuk memberi sang ibu kebahagiaan dengan kehadiaran seorang cucu pun musnah sudah.

Saat dirinya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, ibu tercinta kini malah harus pergi untuk selama-lamanya. Lebih perih lagi, kepergian ibunya disebabkan oleh kelakuan suaminya alias menantunya sendiri.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X