• Sabtu, 22 Januari 2022

Mensyukuri Nikmat 4: Merasakan Hidup Jadi Orang Kaya

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 06:00 WIB
Purbo melihat hamparan sawah yang kelak akan jadi miliknya. (Ilustrasi Sibhe)
Purbo melihat hamparan sawah yang kelak akan jadi miliknya. (Ilustrasi Sibhe)

SELESAI upacara pernikahan yang berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam penuh, kehidupan kembali normal seperti biasa. Namun bagi Purbo, ini adalah kehidupan yang semua serba baru.

Kini Purbo bisa merasakan bagaimana hidup sebagai orang kaya dan serba berkecukupan. Namun di sisi lain, Purbo juga merasakan perubahan dari kehidupan serba bebas tanpa ikatan, sekarang semua tindakannya jadi sangat terbatas. Apalagi ia harus tinggal di rumah mertuanya.

Terpaksa Purbo harus bisa menyesuaikan diri. Baik dengan istrinya maupun dengan seluruh keluarga dimana ia sekarang tinggal.

Baca Juga: Kesaktian Syekh Maulana 4: Para Lelembut Merasa Terganggu dengan Penyebaran Agama Islam

Satu dua hari ini memang bisa dilakukan dengan mudah oleh Purbo, karena ia sebelumnya sudah membayangkan bagaimana harus berperilaku di dalam keluarga istrinya, sebuah lingkungan yang sangat jauh berbeda dibanding dalam keluarganya sendiri.

Tapi lantaran masih di lingkungan pedesaan, maka sebenarnya tak ada hal baru yang harus dia lakukan.

Sebagai tuan tanah atas area pertanian yang sangat luas, maka pekerjaan utama yang harus dilakukan adalah memantau sawah-sawah. Untuk pengerjaan di lapangan, sudah ada tenaga sendiri yang melakukannya.

Baca Juga: Tumbal Pesugihan Monyet 3: Rantai Besi Melilit Anak-anak yang Dijadikan Budak

Pagi itu Pak Warjo mengajak Purbo pergi ke sawah, untuk memperkenalkan menantunya itu dengan pekerjaan sehari-hari sehingga nanti siap menggantikan posisinya.

"Bo, kamu harus mengerti kapan harus memulai tanam disesuaikan dengan musim, agar nanti hasilnya bisa maksimal. Kamu lihat itu padi sudah mulai menguning, dalam beberapa minggu lagi kita sudah bisa panen," kata Pak Warjo memberi pelajaran pada Purbo sambil meniti pematang sawah yang cukup luas.

"Kita juga punya area yang digunakan untuk memelihara ikan. Mina padi seperti ini bisa memberi keuntungan yang lumayan. Padi yang dihasilkan lebih baik, karena memanfaatkan bahan organik sebagai pupuk berupa limbah organik dari ikan sebagai sumber hara," jelas Pak Warjo.

Baca Juga: Hantu Jamu Gendong Gentayangan di Jembatan Tempat Ia Dibunuh Preman

Purbo hanya manggut-manggut setiap kali diberi penjelasan. Namun dalam hati ia berpikir lebih jauh lagi, yaitu bahwa hamparan sawah yang sangat subur itu, kelak akan menjadi miliknya juga.

Tak perlu bersusah payah cari pekerjaan, tinggal ongkang-ongkang uang datang sendiri karen semua pekerjaan sudah dilakukan para buruh tani.

"Keputusanku sangat tepat menikah dengan Yani. Tak perlu lagi memikirkan masa depan," kata Purbo dalam hati sambil tersenyum sendiri. (Bersambung)

 

Halaman:
1
2

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X