• Selasa, 30 November 2021

Kejujuran Membawa Nikmat 23: Tak Semudah Membalikkan Tangan

- Senin, 20 September 2021 | 05:36 WIB
Bu Karto terharu saat diajak Surya untuk buka usaha bersama.  (Ilustrasi Sibhe)
Bu Karto terharu saat diajak Surya untuk buka usaha bersama. (Ilustrasi Sibhe)

MATA Bu Karto tampak berkaca-kaca, saat Surya mengutarakan maksudnya, untuk mengajak ibu kandungnya itu bekerja sama membuka usaha katering.

Selama ini, dirinya bekerja serabutan ke orang-orang yang membutuhkan. Mulai dari bersih-bersih rumah, mencuci baju, memijit, dan pekerjaan lain yang sifatnya hanya sekadar minta tolong.

Sesekali Bu Karto diminta tolong untuk memasak, terutama jika ada hajatan. Masakannya memang banyak disukai orang, karena dikenal lezat dan terasa pas di lidah.

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 1: Rumah Tangga Baru yang Sepi

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 2: Cemburu Itu Bunga-bunganya Cinta

Sebenarnya sudah banyak yang menyarankan pada Bu Karto, agar membuka warung makan. Namun karena ketiadaan modal, maka semua hanya sebatas angan-angan.

Sekarang tiba-tiba Surya yang sejak kecil tinggal dan dibesarkan keluarga Pak Parno, datang untuk menawarkan kerjasama yang terkait dengan keahliannya. Rasa haru, senang dan sedikit takut bercampur aduk di dada Bu Karto.

Terharu karena Surya ternyata masih ingat akan dirinya. Senang karena dirinya bakal dipersatukan kembali dengan anak kandungnya itu lewat kerjasama usaha. Namun juga sedikit takut, jika nanti usahanya mengalami kegagalan yang berarti akan mengecewakan Surya pula.

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 3: Pertimbangan Mengadopsi Anak untuk Pancingan

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 4: Mengadopsi Anak Saudara yang Kesulitan Ekonomi

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 5: Meneladani Rasulullah dalam Mendidik Anak

"Dengan mengucap Bismilah hirohman nirohim, mari kita mulai usaha ini Ibu. Surya yakin, Ibu mampu menjadi juru masak jempolan, sehingga yakin kita bisa dan harus sukses," kata Surya untuk meyakinkan Bu Karto yang terlihat agak ragu-ragu.

"Iya, Putri juga pernah mencicipi masakan Ibu. Enak kok, jadi Putri optimis pasti nanti akan banyak yang mau jadi pelanggan," timpal Putri.

Setelah melalui persiapan yang cukup, akhirnya usaha katering Surya pun dimulai. Agar lebih mudah dikenal, dibuatlah kios kecil di bagian pojok rumah. Sekalipun sasarannya katering, namun juga dibuka warung makan yang menyediakan orang untuk makan di tempat.

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 6: Istri Menunjukkan Tanda-tanda Hamil, Suami yang Stress

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 7: Bahagianya Menyambut Kelahiran Buah Hati

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 8: Terbongkarnya Rahasia Besar

Rencana memang sudah disusun secara rapi, tapi ternyata dalam perjalanannya tak semudah yang dibayangkan. Tak gampang mendapatkan konsumen yang bersedia mampir ke warung makan Surya atau memesan paket katering yang ditawarkan. Pemasukan memang ada, tapi kurang sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Kecemasan sudah mulai menghinggapi hati Bu Karto, namun Surya selalu memberi dorongan agar tetap semangat. Setiap kali ada waktu luang, Surya mencoba untuk berdialog dengan Bu Karto untuk membahas apa saja yang perlu dilakukan untuk membesarkan usahanya.

Putri juga tidak tinggal diam. Ia yang pertama kali memberi ide untuk mengajak Bu Karto membuka usaha, karena itu Putri merasa ikut bertanggung jawab atas sukses tidaknya usaha tersebut. (Bersambung)

 

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X