• Selasa, 30 November 2021

Kejujuran Membawa Nikmat 18: Mimpi Diajak Papa ke Tempat yang Indah

- Selasa, 14 September 2021 | 13:14 WIB
Surya tak percaya ayahnya tiba-tiba sudah sehat lagi. (Ilustrasi Sibhe)
Surya tak percaya ayahnya tiba-tiba sudah sehat lagi. (Ilustrasi Sibhe)

DI rumah sakit, Surya tak pernah meninggalkan Pak Parno yang masih terbaring tak sadarkan, kecuali untuk menjalankan Salat atau keperluan ke kamar kecil.

Rasa kantuk ditahan sekuat-kuatnya, karena ia tak ingin lepas dari pengamatan soal perkembangan kondisi ayah angkatnya itu. Suara detak mesin alat bantu yang mengitari tubuh Parno, menjadi teman setianya.

Sesekali Surya mencoba berkomunikasi, dengan cara berbicara apa saja seolah ayah angkatnya itu mengerti apa yang ia omongkan. Dibisikkannya doa-doa dan ayat-ayat suci Alquran di dekat telinga Pak Parno, sehingga terasa sejuk di jiwa sekaligus untuk membangkitkan semangat. Surya yakin papanya mendengar semua yang ia omongkan. Ia juga yakin doa yang dipanjatkan akan dikabulkan Allah SWT.

Baca Juga: Khasiat Kemuning untuk Mengatasi Infeksi Saluran Kencing dan Terapi Kulit Kasar

Allahumma robbannas adzhibilba’ sa isyfi antasysyafi la syifauka syifa’ an la yughodiru saqoma. (Artinya: "Ya Allah Ya Tuhanku, Tuhan dari segala manusia dimuka bumi, berikanlah kesembuhan kepadanya, angkatlah penyakitnya, dan jadikanlah penyakit yang ia derita sebagai pelebur dosa. Hanya kepadamulah kami meminta kesembuhan, kesembuhan yang tak ada kambuh lagi." ( H.R. Bukhari dan Muslim)

Lantaran saking lelahnya, Surya akhirnya tak menyadari dirinya tertidur. Masih dengan menggenggam erat tangan Pak Parno, sementara kepalanya terkulai di tepi kasur. Seharian menunggu tanpa mengenal lelah, kondisi fisik Surya rupanya tak mau diajak kompromi.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengejutkan Surya, ketika suara lirih memanggilnya. "Surya...bangun, Nak."

"Papa...," teriak Surya setengah tak percaya.
"Papa sudah sembuh? Alhamdulillah...."
"Papa tidak sakit Surya. Ayo kita jalan-jalan di luar."

Baca Juga: Nenek Menggendong Kayu Tiba-Tiba Menghilang Tak Berbekas

Tak percaya Surya dengan apa yang dialaminya, tapi dituruti saja keinginan papanya. Ia pegang tangan Pak Parno dan dituntunnya untuk berjalan pelan-pelan. Namun justru Pak Parno yang lebih cekatan, dan setengah berlari menggeret tangan Surya menuju ke luar ruangan.

Di luar dugaan Surya, mereka sampai ke sebuah tempat yang sangat indah. Semua serba putih dan bercahaya. Surya mencoba mengucek-ngucek matanya, namun pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelunya itu tidak berubah.
"Kita dimana ini Papa?" tanya Surya.

Pak Parno hanya tersenyum. Tak keluar sepatah pun kalimat dari mulutnya, sementara wajahnya yang bercahaya menunjukkan ketenangan. Surya pun semakin bingung dengan apa yang dialaminya. Ia tak ingin mendesak papanya untuk bertanya terus, karena lidahnya juga terasa kelu untuk berbicara. (Bersambung)



 

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X