• Rabu, 26 Januari 2022

Kejujuran Membawa Nikmat 12: Selamat Jalan, Mama...

- Sabtu, 11 September 2021 | 09:40 WIB
Surya tak sabar mendengar keterangan dokter. (Ilustrasi Sibhe)
Surya tak sabar mendengar keterangan dokter. (Ilustrasi Sibhe)

MENJELANG petang akhirnya Surya sampai juga ke rumah sakit yang dituju. Bergegas ia mencari informasi, dimana kedua orang tuanya dirawat. Sekalipun pelayanan rumah sakit sudah cukup cekatan, namun Surya merasa sangat lamban sekali.

Oleh seorang suster, Surya dan Putri diajak ke sebuah ruangan. Ketika masuk, ternyata bukan ruang tempat Parno dan Dina dirawat tapi ruangan khusus yang cukup sejuk.

"Silakan duduk dulu, dokter segera datang," kata perawat dengan ramah.

Baca Juga: Nenek Menggendong Kayu Tiba-Tiba Menghilang Tak Berbekas

Sambil duduk, mata Surya memandang jam yang cukup besar di dinding. Jarum detik yang bergerak stabil, dilihatnya seakan sangat lambat. Terdengar suara detak setiap kali jarum bergerak, beriringan dengan degub jantung Surya yang terasa makin kencang.

Derit suara pintu dibuka pun seakan terdengar sangat keras, sehingga mengagetkan Surya maupun Dina. Masuk seorang pria setengah baya berpakaian putih. "Ini pasti dokternya," kata Surya dalam hati.

"Maaf menunggu agak lama. Perkenalkan saya dokter Hadi, saudara masih famili Bapak Parno?" kata dokter.

Baca Juga: Diganggu Hantu Usus 1: Ada Benda Jatuh dari Bambu dan Melilit Leher

"Benar dokter, saya Surya dan ini Putri, kami putra dan putri dari Bapak Parno dan Ibu Dina."

"Baik, Nak Parno dan Dina kami terima di rumah sakit ini dini hari tadi. Mereka mengalami kecelakaan di jalan tol dan maaf, kondisinya sudah sangat parah," dokter menjelaskan dengan pelan-pelan tapi tegas, sehingga Surya dan Putri bisa mendengarkan dengan jelas.

Kata-kata awal dokter sudah mengarah ke kabar yang sepertinya tidak baik. Tapi dokter tidak mengatakan secara langsung, agar Surya maupun Putri tidak kaget. Bagaimanpun sudah menjadi tugas dokter untuk menyampaikan fakta yang terjadi pada diri pasiennya, sekalipun fakta itu merupakan hal yang tidak diinginkan oleh keluarga pasien.

Baca Juga: Nyimas Utari dan Misteri Kematian JP Coen 1: Penjajah Melakukan Monopoli Perdagangan Rempah-rempah

"Semua upaya maksimal sudah kami lakukan. Sejauh ini Pak Parno belum sadarkan diri dan masih dalam penanganan intensif."

"Semoga masih ada harapan," kata Surya dalam hati sambil menghela nafas.

"Sedang Ibu Dina kondisinya lebih parah. Upaya sudah dilakukan tim dokter, tapi Ibu akhirnya meninggal sekitar tiga jam yang lalu."

"Mamaaaaa......." tiba-tiba suara tangis Putri meledak. Sambil meronta-ronta, Putri tak kuasa untuk mengendalikan dirinya. Dan sesaat kemudian dia terdiam, jatuh terkulai di pangkuan Surya karena pingsan.

Baca Juga: Arwah Gentayangan Jadi Tumbal Siluman Kuda

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Maafkan aku Mama, Surya terlambat datang. Selamat jalan Mama, semoga Mama beristirahat dengan tenang," kata Surya lirih, sambil mengusap air matanya yang tak terbendung.

Datang beberapa perawat yang dengan cekatan mengangkat tubuh Putri, untuk diletakkan di tempat yang lebih nyaman. Butuh beberapa menit untuk menyadarkan Putri. Namun ketika sadar, gadis periang ini kembali menangis berteriak-teriak memanggil mamanya. (Bersambung)


Halaman:
1
2

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X