Difitnah Seperti Ayah

SEBAGAI anak yatim Tantro sudah terbiasa untuk hidup mandiri, sehingga tak ada kesulitan berarti yang dialaminya sepeninggal ayah angkatnya, Pak Kasan. Yang agak berbeda justru lingkungannya. Tanpa kehadiran Pak Kasan yang seorang pensiunan militer dan sangat disegani masyarakat, rupanya sangat berpengarh bagi Tantro. Kini ia seolah dipandang sebelah mata oleh teman-temannya. Lain dengan saat masih berstatus anak angkat Pak Kasan, yang membuat Tantro ikut disegani orang-orang di sekitarnya.

Teman-teman di sekolahnya pun ada pula yang jadi bersikap agak lain. Memang ada yang kemudian tambah simpati dengan nasib yang dialami Tantro, namun bagi yang sejak awal menyimpan rasa tidak suka sekarang jadi girang.

Gono, salah satu teman Tantro sejak semula memang menyimpan rasa iri pada Tantro. Sebagai orang terpandang karena dari keluarga berada, Gono dikenal tak mau dikalahkan orang lain. Ia harus lebih dari orang lain, meski untuk mencapai hal itu kadang harus menggunakan cara-cara licik. Soal kekayaan memang sudah tidak ada yang mengalahkannya, namun untuk hal lain tak berkaitan denga materi Gono sering kalah dibanding yang lain.

Seperti soal prestasi di kelas, Gono sering kalah dengan Tantro. Hal inilah yang membuat Gono sangat membenci Tantro. Namun saat masih ada Pak Kasan, rasa benci itu hanya bisa dipendam dalam hati. Nah, sekarang Gono merasa sangat bebas untuk berbuat apapun terhadap Tantro. Terlebih setelah tahu Tantro sekarang kembali jadi orang miskin yang hanya hidup bersama ibunya di sebuah gubuk kecil.

Ada saja ulah Gono untuk melecehkan Tantro di depan teman-temannya di sekolah. Hal itu dilakukannya secara terang-terangan. Namun Tantro tak pernah menanggapinya dan tak merasaakit hati meski diperlakukan secara semena-mena. Tak terbilang sudah, barang dagangannya yang ia bawa di sekolah dicuri oleh Gono. Tantro sebenarnya tahu, namun tak pernah mempersoalkannya agar masalah tak berkepanjangan. Sikap Tantro itu ternyata membuat Gono semakin merasa jengkel, karena niatnya untuk membuat temannya itu sedih tidak berhasil. Apalagi di bidang prestasi pelajaran, Tantro masih selalu unggul dibanding dirinya.

Maka dicarilah akal bagaimana agar Tantro benar-benar jatuh di mata guru dan teman-temannya. Cara licik pun disiapkan, yakni membuat fintah Tantro sebagai pencuri. Dimasukkannya sejumlah uang ke dalam tas tantro, setelah itu ia diam-diam lapor kepada gurun Bimbingan Konseling bahwa di kelas ada pencuri. Gegerlah seisi kelas, karena tiba-tiba akan dilakukan razia setelah adanya laporan seseorang telah kecurian uang.

Lebih geger lagi setelah ketahuan, uang itu ternyata berada di dalam tas Tantro. Sudah tentu Tantro kaget luar biasa. Ia tak menduga ada orang setega itu untuk membuat fitnah terhadap dirinya. Hatinya benar-benar menangis, nasib yang pernah menimpa ayahnya, kini harus dialaminya juga. Namun Tantro berupaya sekuat tenaga untuk menguatkan hati, agar tidak jatuh terpuruk seperti yang dialami ayahnya. (Bersambung)

Read previous post:
Tanpa Surat Sehat, 11 Rombongan Wisata Diminta Pulang

Close