Waktu Pendek Bersama Ibu

DALAM beberapa minggu Marni harus keluar masuk rumah sakit, karena dokter belum juga meemukan penyakit yang dialaminya. Marni sebenarnya sudah tidak tahan dengan apayang dialaminya. Berbeda dengan kekerasan hatinya saat meniti karier, yang seolah tak tergoyahkan dengan cobaan apapun. Bahkan kadang nasihat orang tua pun diabaikan, jika tak sesuai dengan keinginan yang hendak dilakukannya.

Tapi dengan kondisi fisik yang tak berdaya, Marni hanya bisa tergolek di tempat tidur. Beberapa keputusan penting terkait dengan pekerjaannya di perusahaan memang masih bisa dilakukannya. Namun hal itu juga membuat Marni makin sedih. Ia kini menyadari bahwa kemampuan manusia sangatlah terbatas. Apalagi jika sakit mendera, maka tak banyak yang bisa dilakukan kecuali harus pasrah dengan keadaan.

Semangat Marni seakan makin rontok, ketika tim dokter yang merawatnya menyampaikan kabar tak terduga. Ternyata dirinya tengah menderita penyakit mematikan yang sangat ditakuti, kanker sudah stadium 4. Meski dokter memberinya dorongan semangat untuk melewati proses pengobatan sebagai upaya penyembuhan, namun semangat Marni sudah benar-benar hancur. Ia hanya bisa menangisi dirinya sendiri.

Setiap kali Bu Baroto datang untuk menemaninya, air matanya tak terbendung mengalir di pipinya. Dipandanginya wajah tua ibunya, yang selama ini seolah telah ia abaikan. Rasanya baru sebentar ia mengenal ibunya, akibat kesibukannya yang luar biasa dalam urusan pekerjaan. Bahkan rasanya baru kemarin ia merasakan ditimang dan digendong ibunya saat dirinya masih kecil dan menangis minta sesuatu.
“Mungkinkah aku harus mendahului ibu meninggalkan dunia ini?” tanya Marni dalam hati.

Marni pun menyesal selama ini jarang sekali menghabiskan waktunya dengan ibunya. Perempuan tua dengan wajah sayu akibat ditelan usia itu terlihat sangat teduh di mata Marni. Meski sudah tak bisa banyak bicara dan memberi nasihat akibat faktor usia, namun kehadiran Bu Baroto rasanya sudah memberikan ketenangan luar biasa bagi Marni. Meski merasa harapan hidupnya sangat tipis, namun Marni berjanji pada dirinya sendiri, jika nanti bisa sembuh dari sakit berat ini ia akan menghabiskan seluruh waktunya untuk sang ibu.
“Ya Allah, berikanlah kesempatan pada hambu-Mu ini untuk berbakti kepada ibuku, meski hanya sebentar saja,” ucap Marni lirih. (Bersambung)

Read previous post:
Baru Sebulan Bekerja, Manajer Toko Bersimbah Darah

KARANGANYAR (MERAPI) - Seorang karyawan Alfamart ditemukan bersimbah darah akibat luka di tubuhnya. Polisi masih menyelidiki kasus ini. Korban merupakan

Close