Hampa Tak Punya Keluarga

SEBAGAI pekerja keras, Marni menjadi lupa memikirkan masalah ksehatan. Sudah beberapa kali sebenarnya ia merasakan adanya rasa sakit di bagian dalam tubuhnya. Namun karena kesibukannya yang luar biasa, membuat Marni enggan untuk memeriksakan diri ke dokter. Hanya sesekali saja ia berobat, setelah itu lupa lagi. Oleh dokter sebenarnya sudah disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, namun Marni tak pernah melakukan dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya.

Sampai akhirnya rasa sakit itu sudah tak tertahankan lagi, sehingga memaksa Marni harus pergi ke rumah sakit. Oleh dokter ia disarankan untuk opname, guna melakukan pemeriksaan lebih detil mengenai penyakit yang sedang dialaminya. Terpaksa Marni harus menurut, karena memang kali ini rasa sakitnya sudah luar biasa. Selain itu, kondisi fisiknya memang tak bisa melakukan aktifitas lagi, selain hanya tergolek di tempat tidur.

Di saat dalam kondisi seperti ini, Marni baru menyadari betapa pentingnya sebuah keluarga. Ia sedang membutuhkan bantuan, bukan dalam bentuk materi, namun dukungan moral agar kuat menghadapi cobaan yang sedang dihadapi.

Memang ia masih memiliki orang tua. Namun kondisi Bu Baroto dan Pak Baroto sudah sangat renta. Mereka sendiri juga dalam kondisi yang sudah sangat rapu akibat usianya, sehingga sulit untuk diajak berkomunikasi. Apalagi untuk mencurahkan isi hati, sekadar untuk meringankan beban yang sedang dirasakan.

Sementara dengan Marno selama ini memiliki hubungan yang kurang harmonis. Mau tak mau, Marni harus mengakui bahwa adik laki-lakinya itulah sekarang yang bisa mengurusi dirinya di saat sedang sakit parah. Ia tak bisa berharap dari orang-orang yang selama ini telah ditolongnya, termasuk para karyawannya. Mereka memang ikut prihatin dan siap membantu jika diminta Marni, namun rasanya kok sepertinya yang tak diharapkannya. Marni tetap masih merasa nyaman berkomunikasi dengan orang tuanya, sekalipun kondisinya sangat terbatas.

Dalam situasi seperti inilah akhirnya Marni merasakan betapa pentingnya sebuah keluarga. “Coba seandainya aku punya suami,” tangis Marni dalam hati.
Marni kini merasakan akibat dari kesombongannya sendiri. Sombong terhadap saudaranya yang kondisi ekonominya tidak beruntung. Sombong untuk tidak mau menikah karena merasa mampu hidup sendiri. Sombong bahwa kekayaan bakal bisa membahagiakan dirinya. (Bersambung)

Read previous post:
Brokoli Bantu Jaga Kesehatan Hati

ANEKA tanaman serta satwa ciptaan Yang Maha Kuasa sudah banyak yang dimanfaatkan manusia. Selain mampu memberikan nilai gizi ada pula

Close