Terpaksa Dinikahkan

TIDAK ada jalan lain bagi Marno, dirinya harus menikahi Juwita yang sudah berbadan dua. Bahwa kakak perempuannya belum menikah tak bisa dijadikan alasan untuk menunda-nunda lagi. Keluarga Baroto tak ingin dibuat malu dengan kasus yang tengah menjerat Marno.

Terlebih lagi keluarga Juwita, sebagai pihak perempuan mereka menuntut agar pernikahan segera dilaksanakan secepat mungkin. Jangan sampai orang-orang tahu, kalau Juwita sudah mengandung terlebih dahulu.
Sekalipun nantinya para tetangga akhirnya akan tahu juga, hang penting masalah harus segera diselesaikan.

Bagi Juwita, memang kondisi inilah yang ia harapkan. Ia lebih malu disebut perawan tua, dibanding gunjingan bahwa dia telah mengandung di luar nikah. Yang penting harapannya untuk segera menikah dengan Marno bisa segera terlaksana.

Pantangan yang dulu dipegang teguh Marno, bahwa dirinya tak mau melangkahi kakak perempuannya, akhirnya diterjang juga. Toh bagi Marni sendiri, tak ambil pusing dengan keputusan orang tuanya untuk segera menikahkan Marno dengan Juwita. Dari awal Marni memang belum ada ‘krenteg’ untuk mengakhiri masa lajangnya. Ia masih senang dengan kesendiriannya. Asyik dengan pekerjaannya dan tengah mengejar karir agar harapannya untuk meraih kesuksesan demi kesuksesan tercapai.

Jadilah peristiwa sakral bagi manusia dalam mengarungi kehiduppan baru itu dilakukan dengan tergesa-gesda. Meski demikian, guna menutup malu keluarga, resepsi dilangsungkan dengan meriah. Semua biaya ditanggung Marni. Ia tak keberatan mengeluarkan dana yang besar. Baginya, biaya untuk melaksanakan resepsi itu masih sangat ringan. Apalagi ia juga tak keberatan dilangkahi adiknya untuk menikah terlebih dulu. Yang penting masalah bisa terselesaikan, orang tua bahagia, adiknya juga senang. (Bersambung)

Read previous post:
Mucikari Manfaatkan Janda Sebagai PSK

Close