Kata-kata Terakhir

DI ANTARA rasa panik dan bingung, Dirga hanya bisa berteria-teriak: “Tolooong….tolooong….”. Tapi tak ada satu pun orang yang mendekat. Ternyata semua orang sedang mengalami masalah yang sama, kebingungan dan tak tahu apa yang harus diperbuat. Yang selamat hanya bisa menyaksikan sanak famili mereka mengerang kesakitan, merasakan penderitaan luka-luka akibat tertimpa sesuatu. Akhirnya mereka hanya bisa melakukan apa yang sekiranya bisa dilakukan sesuai dengan insting masing-masing.

Beruntung hari sudah mulai terang, sehingga orang bisa melihat situasi sekitar dengan jelas. Namun hal itu juga membuat mereka bisa melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Lingkungan yang sehari sebelumnya terlihat indah dan rapi, sekarang sudah tidak berwujud sama sekali. Rumah-rumah yang kelihatannya kokoh pun tak sanggup menahan goncangan gempa. Kalau pun temboknya masih utuh, maka atapnya yang roboh. Bahkan ada yang seluruh bangunan menjadi rata dengan tanah.

Dirga masih berjuang untuk menyelamatkan nyawa anaknya, dengan memberikan tempat yang sekiranya paling nyaman. Tapi ia melihat Sonya sudah dalam kondis yang sangat kritis. Anak kecil itu berusaha untuk berkomunikasi dengan ayahnya, namun fisiknya sudah tidak mendukung sama sekali.

Dirga pun hanya bisa menyaksikan badan mungil itu kian melemas. Ia sama sekali tak kuasa untuk berbuat sesuatu. Sampai akhirnya badan yang dipeluknya itu terasa tidak beraksi. Dirga serasa tak percaya, putri kesayangannya kini terkulai tak berdaya di pangkuannya. Ia masih berusaha untuk menyadarkan putrinya, namun sepertinya semua sudah berlalu. Dengan tersendat-sendat, Dirga pun mengucapkan kalimat : “Innalilahi…wa inailaihi rojiun…”

Sungguh sebuah perpisahan yang tak pernah diduganya sama sekali. Padahal Sonya sebenarnya sudah memberi pertanda, ketika tadi malam dengan manjanya minta tidur bersama ayahnya. Tak disangka, ternyata itu merupakan sinyal bahwa putrinya itu akan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
“Sonya mau bobok semoga nanti bisa mimpi ketemu ayah,” kata-kata Sonya yang terakhir tadi malam itu terngiang kembali di telinga Dirga.
“Sonya, mengapa engkau pergi secepat ini, nak,” kata Dirga sambil sesenggukan menahan tangis.
“Mama….mama…..,” tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil-manggil ibunya. Suara memelas dari arah seberang itu pun menyadarkan Dirga. Ia jadi teringat istrinya dan dadanya pun kembali bergetar. (Bersambung)

Read previous post:
Pasangan Usia Subur Naik, Peserta KB Turun

Close