Kehilangan Sosok Ibu

KEHILANGAN sosok seorang ibu benar-benar dirasakan Yani. Sekarang ia baru bisa merasakan, betapa pentingnya seorang ibu setelah ditinggalkan Bu Warjo. Sebelumnya Yani memang lebih banyak mengandalkan ibunya itu untuk berbagari urusan di rumah. Bahkan setelah menikah dengan Purbo, sifat kekanak-kanakan Yani masih kental. Dari urusan kecil seperti mencuci piring, hingga masalah yang lebih penting dalam mengelola keuangan, Yani sering banyak bergantung pada ibunya.

Kini empat puluh hari sejak meninggalnya Bu Warjo, Yani masih seperti layang-layang putus dari benangnya. Tak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga lebih sering bengong dan merenungi nasibnya. Terlebih lagi jika teringat, bahwa suaminya sekarang bukan hanya miliknya seorang. Purbo harus kesana-kemari lantaran istri keduanya, Darti, memerlukan pendamping dalam merawat kandungannya.

Memang Yani masih punya ayah, namun tentu perannya jauh berbeda dengan sang ibu. Pak Warjo lebih sebagai sosok yang disegani sehingga Yani kadang ada rasa takut jika melakukan komunikasi. Berbeda dengan Bu Warjo yang bisa menjadi sahabat sekaligus pengayom setiap kali Yani merasa perlu menyampaikan suara hatinya. Bersama Bu Warjo, Yani bisa bermanja-manja dan menyampaikan keluh kesahnya.

Sekarang tempat untuk bersandar itu telah tiada. Sosok ibu yang selalu melindungi dan membimbing dirinya, tiba-tiba hilang saat dirinya belum siap untuk mandiri. Sebagai anak tunggal, sifat manja Yani pun tak bisa hilang sampai dirinya menikah dengan Purbo.
“Yani, kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian ibu. Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan Allah SWT kepada ibu dan juga kepada kita,: kata pak Warjo saat melihat anaknya itu kelihatan selalu murung.
“Yani nyesel Pak, selama ini belum bisa membalas budi jasa Ibu. Yani baru bisa merasakan setelah Ibu tidak ada,” kata Yani dengan mata berkaca-kaca.

“Benar katamu Yani, penyesalan selalu datang belakangan. Namun tidak ada kata terlambat untuk berbakti pada orang tua. Sekarang Yani bisa menunjukkan bakti pada ibu, dengan mengiklhaskan kepergiannya, selalu mendoakan, dan menjalankan semua nasihat yang disampaikan semasa ibu masih hidup. JIka itu Yani lakukan, Bapak yakin Ibu pasti akan merasa bahagia di alam sana,” kata Pak Warjo. (Bersambung)

Read previous post:
Kemiri Lawan Serangan Ketombe

POHON kemiri layak dilestarikan keberadaannya. Alasannya antara lain, bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai bumbu serta ada khasiat kesehatannya.

Close