Menghadapi Masalah dengan Positif

SETELAH kejadian menggegerkan dengan kedatangan Darti, situasi dalam rumah keluarga Pak Warjo seolah berubah menjadi bara yang memanas. Baik di antara Purbo dengan Yani selaku suami istri maupun antara Purbo dengan Pak Warjo selaku anak dan menantu. Semua serba salah setiap kali melakukan aktivitas.

Namun Pak Warjo sebagai orang yang paling tua, harus bisa bersikap bijaksana. Memang tak dipungkiri, dalam hatinya teramat sangat kecewa dengan Purbo, yang sudah melukai hati anaknya. Namun ibarat nasi sudah menjadi bubur, maka semua harus dijalani lantaran tak mungkin bisa diulang mundur ke belakang.

Pak Warjo bertekad akan menyelesaikan persoalan pelik dalam rumah tangga anaknya dengan cara yang bijaksana. Dalam setiap waktu senggang, ia sempatkan untuk bicara dari hati ke hati dengan Yani, kadang juga dengan Purbo. Dengan Yani, Pak Warjo senantiasa membesarkan hati anaknya itu agar tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan.

“Eling marang sing Kuwoso, yo Nduk. Ini memang cobaan yang sangat berat, namun Gusti Allah tidak mungkin memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya. Yang sabar saja, jangan terlalu ngalamun untuk memikirkan masalah yang kamu hadapi. Jika memang terasa sangat berat, Solatlah, minta ampunan dan petunjuk pada Gusti Allah,” kata Pak Warjo pada Yani.
“Nggih Pak. Yani sudah mencoba untuk tabah, tapi rasa sakit hati kok rasanya tidak hilang-hilang,” kata Yani.

“Semua harus berproses, nanti ada waktunya kamu bisa memahami dan mengatasi masalah yang sedang kamu hadapi. Lakukanlah kegiatan yang bermanfaat dan positif, karena dengan melakukan kesibukan sedikit banyak pikiranmu tetap berkembang. Tidak suntuk memikirkan masalahmu saja.”
“Tapi apa yang bisa Yani lakukan, Pak?”

“Banyak, banyak sekali yang bisa kamu lakukan. Jika kamu merasa sumpek di rumah, bisa mencari kesibuan di luar rumah. Bisa membantu ibu mengurus sawah, bahkan kalau mau bisa mencari kegiatan lain yang bisa membuat hatimu senang.”
Dalam hati, Yani membenarkan saran ayahnya. Tidak mungkin dirinya berdiam diri, karena semakin tidak melakukan kegiatan, hatinya semakin merasa sedih dan nelangsa. Pikirannya hanya tertuju pada masalah yang sedang dihadapi, dengan masa depan rumah tangganya yang baru berusia beberapa hari. (Bersambung)

Read previous post:
Buruh Yogya Tolak Perpanjangan Masa Tanggap Darurat

Close