Rumah Megah Terasa Kosong

SEMUA kini telah dimiliki Berjo. Dari hasil usahanya warung bakso, maka rumah yang cukup bagus telah dimiliki, lengkap dengan segala isinya. Bahkan baru dua hari yang lalu, garasinya telah diisi sebuah mobil baru gres. Sekarang kemana-mana Berjo pun naik mobil sendiri.
Setiap hari ia sibuk dengan kegiatannya di warung yang memang sangat laris sekali. Sampai-sampai hampir ia tak punya waktu istirahat. Karni sudah menyarabkan agar Berjo mencari asisten, yang bisa mengurus segala sesuatunya. Namun Berjo ingin melakukannya sendiri ebih dulu, karena memang ingin menyibukkan diri.

Malam setelah semua selesai dan ia pulang ke rumah, barulah terasa ada yang masih kurang dalam hidupnya.
Ia merasa kesepian, karena rumahnya yang cukup besar itu hanya ditinggalnya sendiri. Di saat seperti itulah, ia teringat pada gadis mungil Solehati. Buah hatinya itu pasti sudah besar, namun yang diingat Berjo adalah anak kecil berusia 5 tahun, saat ia dipaksa harus meninggalkan buah hatinya itu karena bercerai dengan istrinya.
“Solehati, kamu pasti sudah jadi gadis remaja sekarang. Bapak rinfu kamu, nak,” batin Berjo sambil memandangi foto anaknya itu saat masih berusia 5 tahun.
“Sekarang kamu pasti sudah sekolah kelas 4 SD. Semoga saja kamu bahagia bersama ibu dan ayahmu yang baru.”

Tak terasa air mata menetes di pipi Berjo. Ingin rasanya memeluk Solehati saat itu juga. Berjo pun teringat kata-kata orang tuanya, bahwa istri memang bisa bercerai namun yang namanya anak tetaplah anak. Tak ada yang namanya mantan anak. Terlebih lagi, seorang ayah punya kewajiban menikahkan anak perempuannya kelak.
Namun masih saja ada keraguan di hati Berjo. Ia punya bayangan Solehati sekarang hidup di rumah mewah serba kecukupan sehingga kedatangannya hanya akan mendapat cibiran saja.
“Kamu tak usah takut. Cari dan temui anakmu, karena itu sudah menjadi hakmu,” kata Karni, ketika keesokan harinya Berjo minta pendapat pada sahabatnya itu.

“Bagaimana pun harga dirimu tidak akan jatuh di depan anak dan mantan istrimu, karena sekarang kamu sudah punya usaha yang mapan. Jangan merasa minder kalau suami mantan istrimu sekarang lebih kaya dibanding kamu, karena derajat manusia tidak diukur melalui kekayaannya. Apalagi sekarang kamu sudah kaya karta dan kaya hati,” lanjut Karni memberi dorongan yang membuat Berjo menjadi mantap untuk menemui Solehati. (Bersambung)

Read previous post:
Memilih Teman yang Benar

HAL yang tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh Berjo itu akhirnya meenjadi kenyataan. Sebuah warung bakso yang cukup representatif di tepi

Close