Kenyataan Tak Seindah Angan-angan

KENYATAAN sering tak seindah yang dibayangkan sebelumnya. Marjina punya angan-angan besar, dirinya bakal bisa hidup bahagia setelah bercerai dengan Berjo. Pasalnya, hidupnya akan ditanggung penuh oleh Harjino. Sekalipun hanya menjadi istri simpanan, Marjina tak mempersoalkan lantaran pacarnya itu sudah berjanji tak akan menelantarkannya.

Awalnya memang semua serba indah. Mereka mengontrak rumah lumayan bagus, yang ditempati Marjina bersama putrinya. Hanya sesekali Harjino menengok untuk memenuhi hasratnya.
Pola hidup seperti itu dijalani Marjina dengan baik selama beberapa minggu. Namun lama kelamaan, suasana batinnya sudah mulai tak nyaman. Harjino hanya datang saat dirinya butuh saja. Benar semua kebutuhan sudah dijamin, tapi hati Marjina terasa hampa karena lebih banyak waktunya ia harus sendirian. Tak ada orang yang bisa diajaknya untuk bertukar pikiran.

Belum lagi suara tetangga kiri kanan yang mulai membuat risih telinga. Kadang secara terang-terangan mereka sengaja membicarakan dirinya, seolah agar bisa didengar.
“Bagaimana ya rasanya jadi istri simpanan. Enak sih enak, semua serba dijamin. Tapi amit-amit deh, suaminya datang dan pergi seenaknya saja,” kata seorang ibu saat mereka tengah berbelanja pada tukang sayur keliling di pojok jalan.
“Enak dunia saja yang kayak gitu, kan sama juga menjual dirinya. Apa bedanya dengan PSK yang berkeliaran di pinggir jalan?” timpal ibu yang lain.

Merah muka Marjina mendengar pembicaraan para tetangganya itu. Mau marah namun tak mungkin, karena justru nantinya malah makin mempermalukan dirinya sendiri. Hanya yang ia herankan, begitu cepatnya isu dalam rumah tangganya bisa diketahui oleh para tetangga. Baik masalah perceraiannya dengan Berjo sampai statusnya sekarang sebagai istri simpanan. Ini membuat ia jadi malas untuk keluar dari rumah. (Bersambung)

Read previous post:
30 Menit Tubuh Terkubur Lumpur, Buruh Bangunan Selamat

Close