Pilihan Sulit

image description

PAGINYA, Tarni sudah tidak sabar lagi untuk menanyakan perihal uang dalam tas kepada suaminya. Namun ia menunggu kesempatan yang paling tepat, agar pembicaraan bisa berlangsung dengan lancar. Rasanya waktu berlalu sangat lama, ketika Tarni menunggu suaminya selesai mandi dan berganti baju. Semua sudah ia siapkan di meja makan. Sengaja dipilih masakan kesukaan Kirno, nasi goreng telor ceplok, agar suaminya merasa senang.
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Namun Tarni bingung mau memulai pembicaraan, agar suaminya tak marah bahwa dirinya telah lancang membuka tas kerjanya.
“Urusan di kantor baik-baik saja to, Pak?” tanya Tarni memberanikan diri.

Namun pertanyaan yang sebenarnya biasa itu, terdengar seperti sengatan lebah di telinga Kirno. Ia sebenarnya mencoba melupakan masalah yang ada di kantor, tapi sekarang justru istrinya mengingatkannya kembali.
“Baik, memangnya kenapa?” kata Kirno balik bertanya.
“Ibu sih cuma tanya saja. Barangkali Bapak baru dapat proyek di kantor, soalnya dua hari ini Bapak seperti memikirkan sesuatu yang berat,” kata Tarni.
“Ah enggak, biasa saja. Mungkin perasaan Ibu saja. Pekerjaan di kantor tidak ada yang istimewa. Hanya mungkin Bapak agak capek saja.”

Makin timbul tanda tanya di hati Tarni, karena sepertinya suaminya memang tidak sedang mengerjakan proyek di kantornya. “Betul, Bapak sepertinya capek. Bahkan tadi malam sampai mengigau soal uang yang banyak. Memangnya Bapak punya uang banyak ya, kok sampai mengigau segala,” kata Tarni mencoba memancing suaminya untuk bicara soa uang di tasnya.
Kirno kaget juga istrinya bicara seperti itu. Ia mengira benar tadi malam ia mengigau soal uang, karena begitu memikirkannya. Tapi untuk bicara terus terang, Kirno masih ragu-ragu karena takut nanti Tarni tak sepaham derngan dirinya.
Disadari benar, bahwa masih banyak kebutuhan keluarga yang belumn terpenuhi. Karena itu, Kirno khawatir jika tahu uang itu sudah diberikan Pak Handika kepadanya, Tarni lantas ingin memiliki sepenuhnya. Padahal hati kecil Kirno belum bisa menerima uang itu, karena dianggapnya uang haram. Uang yang bisa membawa malapetaka jika ia belanjakan untuk kepentingan diri sendiri. Pilihannya sekarang, berbohong pada istrinya demi memenuhi suara hati kecilnya, atau terus terang namun dengan risiko harus berdebat soal harus diapakan atau dikemanakan uang tersebut. (*)

Read previous post:
MERAPI-HUMAS SLEMAN Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyambut kehadiran tim juri Lomba Sekolah Pangan Aman Nasional di SD Muhammadiyah Condongcatur.
SD Muhammadiyah Condongcatur Maju Lomba Sekolah Pangan Aman Nasional

DEPOK (MERAPI) - SD Muhammadiyah Condongcatur, Depok, Sleman mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam Lomba Sekolah Pangan Aman Nasional. Kedatangan

Close