Tak Ada Kata Terlambat

PIKIRAN Jarino seolah buntu. Usahanya runtuh dan seluruh aset tersisa sudah beralih ke tangan Wurni. Perempuan yang sempat ia cintai sampai mengorbankan mahligai rumahtangganya bersama Tuliyah, ternyata bak ular berbisa. Jarino kini tinggal merasakan dampak dari gigitan ular berbisa itu.

Kembali ke istrinya, Tuliyah, kini kondisinya sudah sangat jauh berubah. Rumah sangat sederhana tanpa fasilitas lengkap. Belum lagi kondisi anak mereka, Jaka, yang belum bisa pulih seratus persen jiwanya sejak menjadi korban amuk massa gara-gara terlibat cah klitih.

Jika sudah seperti ini, maka barulah ingat pada Allah SWT. Jarino menyadari akan hal itu, bahwa selama ini dirinya telah lupa daratan, lupa pada Sang Pencipta sehingga akhirnya harus tersesat jalan.

“Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Marilah kita mohon petunjuk pada Allah SWT, agar diberi jalan keluar terbaik,” kata-kata menyejukkan yang keluar dari mulut Tuliyah ini, turut memberikan dorongan semangat pada Jarino.

“Papa jangan marah ya, ini Mama punya usul. Kita kembali saja ke Bapak, berjuang kembali dari awal. Jika perlu meneruskan saja pekerjaan Bapak menggarap sawah jadi petani di desa.

Pasti Bapak akan menerima kita dengan senang hati,” tiba-tiba Tuliyah mengusulkan hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Jarino.

Sebenarnya ada keengganan di hati Jarino Papa, karena dirinya akan merasa malu bertemu dengan mertuanya. Tapi dengan kondisi yang tengah dihadapi seperti ini, maka seharusnya rasa ego disingkirkan dari pikiran. Tak ada salahnya menerima usulan istrinya, sekaligus untuk membuktikan bahwa ia betul-betul ingin bertaubat dan memperbaiki kesalahan. (*)

Read previous post:
FPRB: Lima Desa di Perbukitan Prambanan Rawan Longsor

SLEMAN (MERAPI) - Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) "Bandung Bondowoso" Kecamatan Prambanan, mendata ada lima desa di kawasan perbukitan wilayah

Close