Hanya Mengejar Dunia

KEDATANGAN Pak Hudi tentu sangat membahagiakan hati Tuliyah yang tengah bersedih memikirkan anaknya yang belum juga siuman. Namun pada sisi lain, ada rasa malu di hati Tuliyah, karena selama ini dirinya seolah telah melupakan ayahnya itu.
Ingatannya seolah berputar ke belakang, setelah dirinya menikah dengan Jarino. Orang tuanya yang telah berjasa membesarkan dan membimbing hingga dewasa, seolah langsung ditinggalkan begitu saja. Hanya sesekali ia memerlukan diri menengok, itupun jika kebetulan ada keperluan lain.

Begitu pun saat sang ibu meninggal dunia, Tuliyah hanya datang saat hari pemakaman. Ia tak merasakan betapa ayahnya tengah dalam suasana duka ditinggal istrinya. Baginya, urusan diri pribadinya lebih penting.

Kini laki-laki yang sudah renta itu berada di depannya, dengan wajah yang tulus menemani dirinya yang tengah bersedih. Dipandanginga wajah Pak Hudi, yang terlihat juga terpukul menyaksikan cucunya terbaring tak berdaya.

Tampak mulut Pak Hudi komat-kamit mengucapkan doa untuk kesembuhan Jaka. Tak terasa air mata pun menetes di pipi Tuliyah.

“Maafkan aku ayah, selama ini terlalu memikirkan untuk mengejar kesenangan pridadi, sampai lupa ada sosok yang pantas untuk dikasihi,” kata Tuliyah sambil mengusap air matanya.

Selama ini dirinya asyik mengejar harta dan kesenangan dunia. Memang harta melimpah berhasul diraupnya. Namun kehadiran Pak Hudi seolah menyadarkan Tuliyah, kasih sayang jauh lebih berarti. Sosok renta itu telah mampu menguatkan batinnya menghadapi cobaan berat ini. Seolah ia merasa optimis lagi, bahwa keajaiban pasti akan datang. (*)

Read previous post:
Putus Silaturahmi

SETENGAH kaget Tuliyah menengok ke kiri, ketika pundaknya disentuh seseorang. Setelah melihat orang yang ada di sampingnya, Tuliyah makin kaget

Close