Beda Bapak Beda Anak

DALAM memberikan fasilitas untuk kepentingan anak, Jarino memang tidak pernah tanggung-tanggung. Terlebih lagi dalam hal pendidikan. Berapa pun biayanya, Jarino tidak merasa keberatan asal Jaka bisa meraih pendidikan sesuai yang diharapkan orang tua.

Hanya saja pandangan Jarino sebagai orang tua, tentu berbeda dengan Jaka sebagai anak yang masih di bawah umur. Anak yang masih ingin leluasa dalam menghabiskan waktunya untuk bermain. Karena itu, tak terbilang Jarino memasukkan Jaka untuk mengikuti les ini les itu, namun hanya sebentar-sebentar karena si anak tidak betah.

“Jaka, nanti sore jadwal les musik ya,” kata Jarino.

“Males Pah, Jaka baru capek,” kilah Jaka.

“Ya sudah, besok saja ya.”

“Enggak usah Pah, Jaka bosen ikut les musik.”

“Gimana sih, baru lima kali ikut les sudah bosen.”

Dialog seperti ini sudah sering terjadi. Tuliyah pun sudah hafal, namun tak bisa berbuat apa-apa karena memang sudah kemauan suaminya.

“Nanti Jaka juga akan menemukan apa yang ia mau Pak, kita nggak usah memaksakan,” kata Tuliyah.

“Lho, kita sebagai orang tua kan juga harus mengarahkan. Jaka harus punya bekal yang cukup untuk masa depannya,” kata Jarino.

Jika sudah begitu, Tuliyah tak ingin memperpanjang pembicaraan, karena pasti suaminya tak mau mengalah. Meski Jaka dimanjakan, namun Jarino punya kemauan keras anaknya harus punya keahlian yang bisa dibanggakan. Entah di biidang apapun, musik, olahraga, seni atau lainnya, yang penting Jaka harus bisa eksis dibanding anak-anak yang lain. (*)

Read previous post:
Berlebihan Manjakan Anak

TIDAK terasa lima tahun sudah, Jarino dengan Tuliyah merasakan menjadi orangtua dari seorang anak. Buah hati itu diberi nama Jaka

Close