Hidup Sebatang Kara

ADA perasaan bahagia bercampur dengan bangga di hati Sisar, karena anak angkatnya Rasti sudah berhasil lulus SMA. Dan bahkan dalam waktu cepat berhasil mendapatkan pekerjaan. Meski bukan pegawai negeri, tapi Sisar tetap senang, karena telah mengantarkan anaknya itu hingga mampu mandiri.

Butuh perjuangan keras untuk bisa mencapai semua ini, karena ia harus berjuang sendiri. Tak lama setelah meninggalnya sang ayah beberapa tahun lalu, disusul kemudian ibunya juga meninggal. Kehilangan kedua orang tuanya secara berturut-turut sempat membuat Sisar putus asa. Tapi pelan-pena ia mampu bangkit, meski selama ini Sisar harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup sekaligus membiayai sekolah Rasti.

“Allah telah memberi kekuatan padaku hingga bisa seperti ini,” kata Sisar, yang sebenarnya sudah mulai sakit-sakitan.

Meskipun secara batin Sisar sudah ikhlas menerima nasibnya, namun pengaruh fisik tak bisa dibohongi. Berbagai penyakit mulai menghampiri tubuhnya yang semula sintal dan padat secara drastis berubah kurus kering. Hanya semangatnya yang membuatnya mampu bertahan hingga saat ini.

Sisar membetulkan posisi selimut yang ia gunakan untuk membalut tubuhnya. Rasa dingin mendera seiring dengan semakin derasnya hujan. Dengan badan agak menggigil, Sisar memandang guyuran air hujan itu dari balik jendela kamarnya. Ingatannya kembali ke masa remaja, ketika ia mulai berkenalan dengan Dirham. Suasananya persis seperti saat ini. Hujan deras disertai angin kencang, yang memaksanya berteduh di teras rumah orang. Tak ayal baju seragam SMA-nya tetap saja basah. Dan di saat bersamaan, Dirham juga berteduh sehingga membuat mereka saling berkenalan.

“Itu masa lalu yang tak perlu dikenang lagi,” kata Sisar yang selalu saja berbohong pada dirinya sendiri, Inginnya melupakan masa lalu, namun bayangan tetap saja berkelebatan di dalam ingatannya. Apalagi setelah dirinya harus tinggal sendirian di rumah, karena Rasti sudah bekerja di luar kota.
Tak terbayangkan sebelumnya oleh Sisar, di hari tuanya ia harus hidup sebatang kara. Tak ada suami dan anak, yang bisa diajak bicara. Akhirnya hanya masa lalu yang selalu menghampiri untuk menutupi rasa sepinya. (Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Diserang OPT, Klaim Asuransi Petani Karawang Cair

KARAWANG(MERAPI)-Petani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar), yang lahan sawahnya terkena serangan hama organisme pengganggu tanaman (OPT), ternyata masih bisa

Close