Dari Bercanda Akhirnya Tumbuh Cinta

PADA awalnya, hubungan Joni dengan Sisar hanya biasa saja. Joni sebagai seorang mahasiswa yang kos di dekat rumah Sisar. Wajar jika mereka kadang bertemu dan ngobrol.

Namun rupanya dari obrolan itu, lama-lama di antara keduanya sama-sama merasa nyaman untuk saling berbicara. Tak masalah keduanya dibedakan jarak usia yang cukup jauh. Sisar yang lebih tua dengan senang hati selalu mendengarkan cerita Joni. Sementara Joni sendiri yang jauh dari orang tua, merasa Sisar bisa dijadikan sebagai ganti ibu untuk menyampaikan curahan hati.

Setiap Joni ada waktu senggang tidak kuliah, maka dimanfaatkan untuk menyambangi Sisar. Ia sengaja memilih saat siang hari, karena suasana sepi sehingga bisa leluasa ngobrol sana-sini. Namun lama kelamaan, pembicaraan keduanya mulai nyerempet-nyerempet bahaya.

“Saya perhatikan sesungguhnya Mbak Sisar ternyata cantik juga ya,” kata Joni.

“Ah kamu itu bikin mbak malu saja,” ujar Sisar yang tersipu malu.

Setelah sekian tahun, baru kali ini Sisar mendengar ucapan laki-laki yang menyanjung dirinya. Dirham sang suami, tak pernah lagi mengeluarkan kata-kata rayuan sejak mereka menikah. Meski diucapkan Joni sebagai bahan candaan, namun dampaknya bagi Sisar sungguh luar biasa.

Hatinya jadi berbunga-bunga dan mulai merasakan Joni yang masih sangat muda ternyata laki-laki yang romantis. Seolah Sisar menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Sesuatu yang sudah tak diberikan lagi oleh Dirham.

Sejak kejadian itu, Sisar jadi lebih berani saat ada kesempatan berbincang berduaan dengan Joni. Suasana yang sepi sangat mendukung, keduanya untuk melakukan hal yang sesungguhnya dilarang norma dan agama.

Hal itu pula yang kemudian memunculkan isu adanya perselingkunhan di antara keduanya. Tak jarang ada warga yang tengah memergoki, keduanya hanya berdua di ruang tamu. Dan kemudian di lain waktu pintu dan cendela rumah tertutup rapat, sekalipun orang tahu benar di dalam ada Joni yang sedang bertamu.

“Tidak mungkin mereka tidak melakukan perzinahan, kalau cendela dan pintu sampai ditutup seperti itu,” kata seorang ibu.

“Itu sih urusan mereka, kita tak usah usil,” jawab ibu yang lain.

“Ya tidak bisa begitu, kalau sampai terjadi sesuatu nanti bisa mencoreng nama baik kampung. Kalau perlu kita lapor Pak RT saja biar digerebek,” timpal ibu yang lagi lagi. (Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PERAJIN KAYU WONOLELO-Tingkatkan Daya Saing, Butuh Inovasi Produk

TAK kurang dari 50 perajin kayu tinggal di Wonolelo Pleret Bantul. Jumlah tersebut masih didominasi perajin dengan status industri kecil

Close