Tak Seindah Angan-angan

SEMUA sepertinya tampak indah dan menyenangkan saat orang belum memiliki. Itulah yang membuat banyak orang bernafsu besar, tapi setelah apa yang diharapkan menjadi kenyataan semua menjadi biasa saja.

Angan-angan Sisar untuk mempunyai anak karena melihat betapa bahagianya para tetangga yang kondisinya lengkap, ada ayah, ibu dan anak. Pada awalnya, Sisar memang senang luar biasa, rumahnya sudah dihiasi dengan kehadiran anak Buliknya yang kini menjadi anak angkat keluarga Dirham. Apalagi anak Buliknya itu sudah agak gedhe karena sudah berusia lima tahun.

Namun mungkin karena sudah besar itulah, maka anak yang diberi nama Rasti – nama samaran – itu sudah banyak kemauannya. Rasti yang harus berpisah dengan keluarganya dan tinggal dengan keluarga baru, semula merasa agak canggung. Pikirannya yang masih anak-anak dibuat bingung, mengapa dirinya harus tinggal dengan Pak Dirham dan Bu Sisar.

Kondisinya memang lebih baik dibanding saat masih tinggal bersama orang tua asli. Apapun yang diinginkan, pasti dipenuhi oleh Bu Sisar.

Dasar anak-anak, sifat dan kemauannya sering sulit ditebak. Hal ini rupanya lama-lama membuat Sisar menjadi jengkel. Bayangannya bahwa nanti jika sudah punya momongan, pasti akan membuat dirinya bahagia. Namun angan-angannya itu ternyata jauh dari kenyataan. Setiap hari hanya kejengkelan yang ia rasakan, menghadapi tingkah laku Rasti, yang di mata Sisar selalu tidak berkenan.

Semua kebutuhan sudah ia cukupi, semua permintaan juga ia penuhi, tapi masih saja Rasti rewel. Padahal itu sebenarnya merupakan bahasa anak untuk melakukan pemberontakan, karena harus dipisahkan dengan orang tua kandung dan saudara-saudaranya. Hal itulah yang kurang dipahami Sisar, sehingga yang muncul di permukaan hanyalah kejengkelan demi kejengkelan.

Dampaknya sungguh sangat mengejutkan. Suara-suara keras mulai muncul dari mulut Sisar, saat bicara dengan Rasti. Hal ini dilakukan terutama saat Dirham tengah tidak berada di rumah. Rasti pun makin tertekan dengan sikap keras Sisar.

Apalagi lama kelamaan bukan saja keras dalam bicara, namun tangan Sisar mulai bermain. Kekerasan terhadap Rasti pun terjadi, mulai dari dicubit, ditampar dan dipukul. (Bersambung)

Read previous post:
Siswa SMP Rentan Masalah Psikososial

SLEMAN (MERAPI) - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyebutkan, berdasarkan sampling yang dilakukan siswa sekolah menengah pertama (SMP) rentan terhadap masalah

Close