Kebahagiaan Tinggal Kenangan

SEIRING dengan makin derasnya curah hujan, begitu pula dengan air mata yang mengalir di pipi Sisar. Pikirannya mengembara mengenang saat hari bahagia tiba, menikah dengan Dirham dengan upacara yang cukup megah. Meski digelar di rumah sendiri, pernikahan Sisar dengan Dirham berlangsung dengan penuh kemeriahan.

Selama tiga hari tiga malam, rumah Sisar tiba-tiba berubah bak pasar tiban. Baik siang maupun malam tak pernah sepi, karena rangkaian acara pernikahan yang sengaja dibuat mengesankan oleh Pak Wiro. Bukan saja acara resmi ijab qobul dan resepsi, namun juga dimeriahkan dengan pentas wayang kulit semalam suntuk dan pentas dang dut.

Di halaman rumah dimana Sisar sekarang tengah memandang, di situlah keramaian itu pernah terjadi 32 tahun silam. Dari balik jendela kamarnya, Sisar seperti mereview semua kenangan itu. Para tetangga yang mengalir, dari anak-anak hingga orang tua, datang silih berganti untuk turut merayakan hari istimewanya. Kemudian pandangan Sisar berpaling, menyisir seisi ruangan kamarnya yang cukup luas. Kamar dimana merupakan malam pertama dirinya bersama Dirham, untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Masih ada sebagian barang yang tetap berada di tempatnya, seperti tempat tidur besi dan almari kayu jati yang masih kokoh. Dua benda itulah saksi bisu, selain dinding kamar tempat ia mereguk kenikmatan duniawi. Kebahagiaan yang semuanya tinggal kenangan. Kebahagiaan yang kini terasa pahit untuk dikenang.

Selama lima hari pertama setelah pernikahan, kamar itu digunakan sebagai malam penganten. Sebelum kemudian Dirham memboyong Sisar ke pihak keluarga laki-laki. Sisar pun harus meninggalkan kamar, rumah dan kedua orang tuanya, untuk menjalani kehidupan baru bersama Dirham.

Kala itu saat melepas kepergian Sisar, Bu Wiro tampak menahan tangis agar tidak terlihat orang banyak. Anak semata wayang yang sangat ia sayangi dan manjakan, tiba-tiba harus pergi.

“Rasanya baru kemarin ibu menggendong dan menyusui Sisar, tiba-tiba sekarang sudah harus pergi. Sebenarnya ibu belum tega melepas Sisar, Pak,” kata Bu Wiryo kepada suaminya dengan suara lirih.

“Sisar sudah menemukan kebahagiaannya, ibu harus melepasnya dengan ikhlas,” kata Pak Wiryo.

“Tapi Sisar belum dewasa Pak, ibu takut ia tidak bisa membawakan diri.”
Ketakutan yang wajar dari seorang ibu, dan memang ketakutan yang akhirnya menjadi kenyataan di kelak kemudian hari. (Bersambung)

Read previous post:
ilustrasi
PENJAHAT BERAKSI DI BANYAK LOKASI-Disergap di Rumah, Ternyata Sudah Berada di Penjara

CANGKRINGAN (MERAPI)- Petugas Jajaran Reskrim Polsek Cangkringan berhasil mengamankan seorang residivis, SR (36) warga Giri Kusumo, Demak, Jawa Tengah setelah

Close