Risih Digunjing Tetangga

SABTU malam, Pak Wiro sengaja bersiap di ruang tamu. Ia tahu benar, sebentar lagi pasti Dirham akan datang untuk wakuncar. Sudah menjadi rutinitias, Dirham ‘apel’ pada Sisar setiap malam Minggu. Kadang mereka hanya jagongan saja di rumah, tapi lebih banyak kemudian pergi nglencer ke kota hingga menjelang tengah malam.

Hal inilah yang membuat Pak Wiro merasa risih. Tak mungkin dirinya melarang Dirham untuk datang, karena pasti Sisar akan marah besar. Namun jika dibiarkan saja, suara miring warga sekitar akan semakin membuat telinganya merah.

“Sebentar lagi akan ada Tutik kedua,” begitu bisik-bisik tetangga yang kini mulai terdengar.

Omongan para tetangga itu merujuk pada kasus yang menimpa Tutik, dimana anak gadis yang masih duduk di bangku sekolah itu ketahuan hamil di luar nikah. Keakraban Sisar dengan Dirham pun dicibir oleh masyarakat sekitar dan mulai gonjang-ganjing bahwa pergaulan bebas telah mulai marak di kampung mereka.

“Kula nuwun…” terdengar suara pintu di ketuk dan suara orang permisi. Benar saja. Orang yang dinanti Pak Wiro sudah datang.

“Ooh nak Dirham, silakan masuk. Duduk dulu ya nak, tunggu sebentar Sisar masih dandan di kamarnya,” kata Pak Wiro.

Sengaja Pak Wiro sebelumnya sudah berpesan pada Sisar, bahwa nanti jika Dirham datang diminta untuk menunggu sebentar. “Bapak ingin bicara dulu dengan Dirham,” kata Pak Wiro saat itu.

Sisar sebenarnya agak curiga dengan sikap ayahnya tersebut. Tanda tanya besar, kiranya apa yang akan dibicarakan ayahnya itu dengan Dirham. Sebab selama ini ayahnya tak pernah banyak bicara. Tak tahu Sisar, bahwa diamnya sang ayah selama ini sebenarnya hanya lantaran dipendam saja. Dalam hati Pak Wiro sesungguhnya tengah bergejolak oleh rasa was-was.

“Nak Dirham, maaf ya bapak mau bertanya,” kata Pak Wiro.

“Njih Bapak,” kata Dirham dengan takzim.

“Sebenarnya bagaimana hubungan nak Dirham dengan Sisar?” tanya Pak Wiro langsung pada pokok persoalan.

“Nji Bapak, kami berteman baik. Sisar anak yang sangat baik,” jawab Dirham sekenanya.

“Lho, hanya berteman saja?” cecar Pak Wiro yang membuat Dirham makin gelagapan.

Sementara di balik pintu, Sisar rupanya tengah mendengarkan percakapan Dirham dengan ayahnya. “Rupanya itu yang mau dibicarakan Bapak,” bisik Sisar pada diri sendiri. (Bersambung)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Nuget Mercon Diburu Penggemar Cita Rasa Pedas

ADA hikmah tersendiri yang didapat di balik suatu bencana alam. Seperti halnya pasca gempa bumi yang mengguncang DIY dan sekitarnya,

Close