Status Istri yang Menggantung

SETELAH basa-basi sebentar, akhirnya pembicaraan antara Jumanto dengan Bonikem menjadi encer juga. Masih terbersit di hati mereka masing-masing, akan kenangan masa lalu. Masa-masa saat bunga-bunga cinta tengah harum semerbak.

“Memang benar, Jimanto sekarang menjadi salah satu pimpinan di perusahaan di Tangerang. Dia anak yang tangguh, karena keberhasilannya lebih didukung oleh kemauannya yang keras. Kuliah dapat bea siswa dan selesai lebih cepat dengan status lulus terbaik, membuat banyak perusahaan yang berebut untuk merekrutnya,” cerita Bonikem dengan bangga.

“Rumah ini juga dibangun hasil jerih payahnya. Katanya ini sebagai balas budi kepada saya sebagai seorang ibu yang sudah membesarkan dirinya. Dia berjanji pokoknya akan membuat ibunya senang dan menyiapkan tiket naik haji. Tapi sebenarnya saya tidak harus dibangunkan rumah bagus dan dicukupi seluruh kebutuhanku untuk bisa senang. Cukup bakti dia sebagai seorang anak dengan sikap menghormati, saya sudah sangat bangga dan bahagia,” lanjut Bonikem.

Lagi-lagi, Jumanto merasa tersindir dengan ucapan Bonikem. Dirinya sebagai seorang ayah, seharusnya yang bertanggung jawab untuk membesarkan Jimanto. Tapi itu sama sekali tidak pernah ia lakukan.

“Terus sekarang kamu sudah bersuami lagi belum?” tanya Jumanto mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

“Mengapa Mas Jumanto bertanya seperti itu. Bukannya saya belum kamu ceraikan. Bagaimana mungkin perempuan dengan status istri bisa menikah lagi.”

Jawaban yang membuat Jumanto semakin salah tingkah. Benar juga. Kala itu ia pergi begitu saja, meninggalkan Bonikem dengan posisi menggantung.

“Jika suami dengan sengaja menelantarkan dan menzhalimi istri dan anaknya dengan tidak memberikan nafkah, maka istri dapat menuntut hak-haknya. Juga bisa lapor ke Pengadilan Agama untuk menuntut cerai. Tapi itu tidak saya lakukan Mas. Saya ikhlas menerima keadaan, karena tanggung jawab saya adalah membesarkan dan mendidik Jimanto agar menjadi orang yang soleh,” beber Bonikem yang seolah mencurahkan uneg-unegnya yang ia tahan selama puluhan tahun.

“Iya maafkan saya Ikem, saya telah khilaf dan berbuat tidak adil pada kamu dan anak kita”.

“Tanpa minta maaf pun Mas Jumanto sudah saya maafkan sejak dulu.”

“Baiklah, baiklah. Sebagai bukti ketulusan permohonan maaf saya, maka izinkan saya mengurus perceraian kita secara resmi biar status Ikem tidak menggantung.”

“Terima kasih kalau Mas Jumanto masih memikirkan status saya, tidak apa-apa meski terlambat,” kata Bonikem. (Bersambung)

Read previous post:
MERAPI-HUMAS POLSEK SAYEGAN Kaca mobil berlubang usai terkena lemparan konblok.
Cah Klitih Lemparkan Konblok, Sopir Terluka

SAYEGAN (MERAPI)- Mobil milik Khairul Ihwan (38) warga Parakan Wetan, Sendangsari, Minggir, Sleman dilempar konblok oleh gerombolan cah klitih saat

Close