Sakitnya Kehilangan Anak

RASA penasaran Jumanto untuk mengetahui jati diri bos Jimanto sampai beberapa hari tak juga mampu terjawab. Jarang sekali ia bisa melihat sosok bos di perusahaan yang gedungnya sedang ia garap itu. Sudah berulang kali Jumanto mencuri-curi kesempatan untuk bisa sekadar bertemu, namun karena lokasi yang agak berjauhan, membuat usahanya selalu gagal.

Apalagi sebagai bos, tentu Jimanto tak mengurusi masalah penggarapan proyek, sekalipun itu berada di lokasi pabrik dimana ia bekerja. Tempat Jimanto adalah kantor berhawa sejuk karena ber-AC, disertai pelengkapan yang serba mewah.

Sementara tempat kerja Jumanto di lapangan, bergelut dengan materail berdebu dan berantakan. Panas dan debu membuat penampilan Jumanto selalu lusuh, bertolak belakang dengan Jimanto yang senantiasa rapih dan berbau wangi.
Pulang kerja sudah petang hampir malam, Jumanto tidak segera membersihkan diri. Dengan keringat yang masih melekat di baju, Jumanto menghempaskan tubuhnya di kursi tempat ia biasa ngadem di waktu senggang. Pikirannya masih saja tertuju pada bos Jimanto. Semakin yakin saja ia, orang tersebut tak lain adalah anak kandungnya sendiri.

“Lho kok malah santai-santai di sini, tidak mandi dulu Pak?” tanya Tinuk yang tiba-tiba muncul dari ruang dalam.

“Sebentar Bu, istirahat sebentar.”

“Saya jeramkan air ya Pak untuk mandi.”

“Tidak usah, nanti Bapak mandi pakai air dingin saja.”

Tinuk pun duduk di samping suaminya. Sebagai istri yang sudah mendampingi selama 25 tahunan, Tinuk tahu betul bahwa Jumanto tengah ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Karena itu, Tinuk tidak ingin menggangu. Dia lebih bersikap diam dan menemani saja, sambil menunggu suasana hart suaminya membaik.

“Bu, akhir pekan nanti Bapak mau ke Jawa dulu ya,” suara Jumanto memecahkan keheningan.

“Memang ada perlu apa Pak, sepertinya kok penting banget.”

“Bapak mau mencari Jimanto, pengin tahu dia sekarang seperti apa. Bapak memang tidak bertanggung jawab, tapi bagaimanapun dia darah daging Bapak juga,” kata Jumanto datar.

Bagi Tinuk, kata-kata itu bak jarum yang menusuk ulu hatinya. Dia sadar, dulu telah merebut Jumanto saat istrinya baru saja melahirkan seorang anak. Dan kini, ia sendiri gagal memberikan anak kepada Jumanto. Memang dirinya sempat mengandung dan melahirkan, tapi si buah hati tak mampu melawan penyakit saat masih usia belia. Memang sakit sekali rasanya kehilangan anak. Itu telah dirasakan sendiri oleh Tinuk, sehingga ia bisa memaklumi jika sekarang Jumanto punya hasrat untuk menemukan kembali anak yang pernah ditinggalkannya. (Bersambung)

Read previous post:
Jadi Budak Musang Putih

KEADAAN ekonomi Mbok Ninuk (nama samaran) sebenarnya sudah bagus. Ia membuka warung makan di rumah, sementara suaminya bertani. Keuntungan warung

Close